MENJADI PEMIMPIN YANG TENANG WALAU BANYAK COBAAN

17

Oleh: M. Tahyar – Sekretaris PDM Muhammadiyah Cilegon

Menjadi pemimpin itu bukan soal siapa yang paling keras suaranya. Bukan pula soal siapa yang paling banyak bicara di grup atau paling pandai mengirim artikel.

Menjadi pemimpin adalah soal siapa yang paling tenang ketika menghadapi cobaan dan paling jitu mencari solusi dari setiap persoalan, baik dalam kehidupan pribadi maupun organisasi.

Saya belajar banyak tentang hal ini dari Muhammadiyah. Muhammadiyah mengajarkan kita untuk tidak menjadi benalu, tidak sekadar menjadi oposisi, dan tidak anti terhadap pemerintah. Muhammadiyah mengambil posisi tengah, seimbang dan menyeimbangkan. Selalu tenang, tetapi tetap tegas dalam menegakkan kebenaran.

Prinsip ta’muruna bil ma’ruf wa tanhauna ‘anil munkar menjadi landasan filosofis perjuangannya.

Pemimpin yang tenang bukan berarti pemimpin yang lemah. Justru, ketenangan adalah salah satu bentuk kekuatan terbesar seorang pemimpin.

Mengapa? Karena orang yang tenang tidak mudah dipancing emosinya. Tidak mudah marah ketika disindir, tidak mudah tersinggung ketika tidak disukai, dan tidak merasa harus membalas setiap sindiran dengan sindiran.

Dia mungkin diam, tetapi tetap bekerja. Ketika berbicara, gagasan dan pemikirannya memiliki pengaruh yang kuat.

Saya pernah merasakan sendiri bagaimana menghadapi berbagai cobaan dalam perjalanan organisasi dan pengabdian. Ketika menjadi Presiden Mahasiswa BEM Universitas Negeri Jakarta (dahulu IKIP Jakarta), anggota KPUD Kota Cilegon periode 2003–2008, hingga anggota DPRD Kota Cilegon periode 2009–2014, saya banyak menghadapi berbagai ujian. Dihina, difitnah, dan disindir sudah menjadi bagian dari perjalanan.

Jika semuanya saya balas, habis waktu dan energi saya. Akibatnya, tidak ada pekerjaan yang bisa diselesaikan.

Karena itu, saya memilih diam dan bekerja.

Masyarakat Kota Baja tidak membutuhkan pemimpin yang hanya pandai berdebat di grup WhatsApp. Masyarakat Cilegon membutuhkan pemimpin yang hadir ketika jalan rusak, ketika banjir melanda, dan ketika ada anak-anak yang kesulitan mendapatkan pendidikan.

Prinsip itulah yang terus saya pegang hingga hari ini dalam menjalankan amanah sebagai Sekretaris PDM Muhammadiyah Cilegon.

Kalau ada yang tidak suka kepada saya, silakan. Itu hak setiap orang. Saya tidak bisa memaksa semua orang untuk menyukai saya. Para nabi saja ada yang tidak menyukai, apalagi saya yang hanya manusia biasa.

Tugas saya bukan membuat semua orang menyukai saya. Tugas saya adalah membuat PDM semakin tertata, menjaga kehormatan Muhammadiyah, dan ikut berkontribusi menjadikan Cilegon lebih baik.

Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Haedar Nashir, pernah mengibaratkan pemimpin yang tenang seperti talang air. Tugasnya mengalirkan kebaikan, bukan menampung kebencian.

Prinsip kerja yang saya pegang adalah bekerja sama dalam hal-hal yang disepakati dan bertoleransi dalam hal-hal yang berbeda.

Jika ada air kotor yang melewati talang, biarkan air itu mengalir. Jangan disimpan. Sebab, jika ditampung, talang akan tersumbat dan air bersih tidak bisa mengalir ke bawah.

Begitu pula hati seorang pemimpin. Jika semua sindiran, sakit hati, dan kebencian disimpan, hati akan tersumbat. Akibatnya, kita tidak lagi mampu mengalirkan kebaikan untuk masyarakat.

Maka, saya memilih untuk tidak menyimpan semua itu. Saya memilih membuang hal-hal negatif, melangkah ke depan, memperbaiki diri, dan membuktikan semuanya melalui kerja nyata.

Saya memilih tenang. Saya memilih bekerja. Saya memilih mengabdi.

Sebab, saya percaya, pada akhirnya masyarakat tidak akan menilai kita dari siapa yang paling ramai berbicara di grup. Masyarakat akan menilai dari siapa yang paling konsisten bekerja dan paling hadir ketika mereka sedang kesulitan serta membutuhkan pertolongan.

Itulah makna menjadi pemimpin yang tenang walaupun menghadapi banyak cobaan.

Pantang menyerah. Musuh jangan pernah dicari, tetapi jika memang harus dihadapi, kita tidak boleh lari.

Wassalam.

Penulis,

Mohamad Tahyar