
CILEGON, BIDIK BANTEN – Paru-paru warga Cilegon menjadi pertaruhan. Alat ukur pencemaran udara atau Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) di Kota Cilegon rusak selama 8 tahun tanpa perbaikan. Padahal alat tersebut vital untuk mengukur kejernihan udara dan deteksi dini pencemaran di kota industri.
Dari 5 unit ISPU yang dimiliki Pemkot Cilegon, hanya 2 unit yang masih berfungsi yakni di Ciwandan dan Pulomerak. Sementara 3 unit lainnya yang berada di Pondok Cilegon Indah (PCI), Grogol, dan Gedeber mangkrak rusak.
Kondisi ini mendapat sorotan keras dari Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Cilegon. Sekretaris PDM Kota Cilegon Mohamad Tahyar menyatakan keprihatinan mendalam dan mengecam kelalaian tersebut. Menurutnya, PDM harus bersikap tegas dalam prinsip amar ma’ruf nahi munkar untuk membela kesehatan umat.
Melalui siaran pers resmi dengan tajuk Paru-Paru Warga Bukan Tumbal Industri, PDM menilai matinya alat deteksi selama 8 tahun sebagai pengabaian hak dasar warga atas udara bersih. “Bagaimana warga bisa waspada jika alat deteksi dini-nya sendiri mati selama 8 tahun? Ini bukan kelalaian teknis, ini kelalaian moral,” tegas Tahyar, Selasa (3/11/2026).
PDM mendesak DLH dan Pemkot Cilegon untuk memperbaiki dan mengaktifkan kembali 3 unit ISPU yang rusak dalam waktu maksimal 30 hari, membuka data kualitas udara secara real-time dan transparan ke publik, serta memenuhi kebutuhan ideal 1 unit ISPU per kecamatan.
Selain itu, PDM juga mendesak dilakukannya audit lingkungan independen terhadap kawasan industri termasuk di sekitar Krakatau Steel terkait dampak pencemaran terhadap kesehatan pernapasan warga di Cibeber, Citangkil, dan Grogol, serta meminta Dinas Kesehatan melakukan skrining kesehatan paru gratis bagi warga terdampak terutama anak sekolah dan lansia.
“Muhammadiyah Cilegon tidak anti industri. Industri adalah nadi Cilegon. Tapi industri tidak boleh tumbuh di atas penderitaan paru-paru warganya. Islam mengajarkan menjaga lingkungan adalah bagian dari menjaga jiwa,” tutupnya.
Sikap kritis ini menegaskan eksistensi PDM Kota Cilegon di bawah Ketua Muhtar Maher dan Sekretaris Mohammad Tahyar yang selama ini dikenal aktif menggerakkan dakwah pencerahan. PDM rutin menggelar pengajian hampir setiap pekan, bahkan hingga lima kali dalam sepekan, sebagai gerakan ideologis memberantas TBC (Tahayul, Bid’ah, dan Khurafat) dan merawat nalar publik di tengah gempuran mistisisme.
Kiprahnya juga terlihat dari penguatan tata kelola Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) di bidang pendidikan dan kesehatan, serta komitmen membangun ukhuwah Islamiyah dengan PCNU Cilegon untuk bersinergi mendukung pembangunan daerah. Bagi Muhammadiyah, persoalan ISPU bukan sekadar isu teknis lingkungan, melainkan bagian dari dakwah menjaga jiwa.




















