CILEGON | BIDIKBANTEN.COM –Peringatan Hari Buruh Internasional di Kota Cilegon kembali menjadi sorotan. Di tengah geliat industri yang terus tumbuh, suara buruh masih menyisakan banyak pekerjaan rumah yang belum tuntas.
Ketua Komisi IV DPRD Kota Cilegon dari Fraksi PPP, Muhammad Saiful Basri, angkat bicara dengan nada tegas. Ia menilai, peringatan Hari Buruh tidak boleh lagi berhenti pada seremoni tahunan tanpa dampak nyata.
“Kalau setiap tahun diperingati tapi kondisi buruh tidak banyak berubah, berarti ada yang salah dalam sistem kita. Negara harus benar-benar hadir, bukan sekadar simbol,” tegas Basri.
Soroti Realita: Industri Besar, Tapi Buruh Belum Sepenuhnya Sejahtera
Sebagai kota industri, Cilegon memiliki potensi besar. Namun menurut Basri, pertumbuhan ekonomi harus berbanding lurus dengan kesejahteraan pekerja.
Ia menyoroti masih adanya persoalan klasik seperti:
Ketidakpastian status kerja
Kesenjangan kesejahteraan
Perlindungan tenaga kerja yang belum optimal
“Kita tidak menutup mata, industri berkembang pesat. Tapi pertanyaannya, apakah buruh sudah benar-benar merasakan keadilan dari pertumbuhan itu?” ujarnya.
Basri Dorong Pengawasan dan Keberpihakan Nyata
Basri menegaskan, DPRD melalui Komisi IV memiliki tanggung jawab moral dan politik untuk memastikan kebijakan ketenagakerjaan berjalan adil.
Ia mendorong:
Pengawasan lebih ketat terhadap perusahaan
Kepatuhan terhadap aturan ketenagakerjaan
Perlindungan hak-hak pekerja secara menyeluruh
“Jangan sampai buruh hanya jadi angka dalam laporan industri. Mereka manusia yang harus dijamin hak dan martabatnya,” katanya.
Pesan Keras untuk Semua Pihak
Basri juga mengingatkan pentingnya sinergi antara pemerintah, pengusaha, dan buruh. Namun ia menegaskan, sinergi tidak boleh mengorbankan kepentingan pekerja.
“Kolaborasi itu penting, tapi keberpihakan juga harus jelas. Jangan sampai yang kuat semakin kuat, sementara buruh terus berjuang sendiri,” tegasnya lagi.
Harapan: Buruh Cilegon Harus Naik Kelas
Di momentum Hari Buruh ini, Basri berharap ada perubahan konkret, bukan sekadar retorika.
“Kita ingin buruh di Cilegon naik kelas—lebih sejahtera, lebih terlindungi, dan punya masa depan yang pasti. Itu yang harus kita perjuangkan bersama,” tutupnya.


























