CILEGON – Sekretaris Muhammadiyah Kota Cilegon, M. Tahyar, menyampaikan sejumlah kriteria yang dinilai penting dimiliki calon Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Cilegon. Menurutnya, Sekda ideal bukan hanya kuat secara administratif, tetapi juga mampu membangun komunikasi dengan seluruh lapisan masyarakat.
Tahyar mengatakan, Sekda harus mampu membangun komunikasi secara vertikal maupun horizontal, mulai dari kepala daerah, jajaran pemerintahan, organisasi kemasyarakatan hingga masyarakat di tingkat paling bawah.
“Yang pertama jelas dia harus bisa membangun komunikasi secara vertikal, horizontal, sampai kepada tingkat yang paling bawah, yaitu rakyat jelata,” ujar Tahyar.
Selain kemampuan komunikasi, ia berharap Sekda ke depan mampu membangun hubungan yang baik dengan organisasi kemasyarakatan Islam, khususnya Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU) yang memiliki basis masyarakat cukup besar di Kota Cilegon.
Menurutnya, pendekatan kepada organisasi kemasyarakatan penting agar pemerintah daerah tidak berjalan sendiri dan dapat menyerap berbagai aspirasi masyarakat melalui elemen-elemen masyarakat sipil.
Tahyar juga menyoroti persoalan lain yang menurutnya perlu menjadi perhatian dalam memilih Sekda, yakni potensi jabatan birokrasi dijadikan sebagai kendaraan untuk membangun popularitas politik.
Ia berharap Sekda yang terpilih nantinya dapat fokus menjalankan tugas membantu Wali Kota dan Wakil Wali Kota, tanpa memiliki orientasi untuk mencalonkan diri sebagai kepala daerah maupun wakil kepala daerah.
“Ke depan kita berharap Sekda itu tidak punya disorientasi untuk mencalonkan diri atau berharap bisa menjadi kepala daerah atau wakil kepala daerah. Sekda itu harus fokus membantu wali kota dan wakil wali kota,” katanya.
Tahyar menilai, persoalan tersebut perlu menjadi bahan evaluasi karena pejabat birokrasi yang telah lama berada di pemerintahan secara otomatis memiliki tingkat pengenalan yang cukup tinggi di masyarakat.
Ia kemudian menyinggung sejumlah nama mantan pejabat yang menurutnya pada akhirnya masuk dalam kontestasi politik. Namun, ia menegaskan bahwa pandangan tersebut bukan dimaksudkan untuk membatasi hak politik seseorang.
“Ini bukan kita membatasi proses demokrasi. Ini persoalan bagaimana Sekda itu fokus ke depan membantu wali kota dan wakil wali kota,” ujarnya.
Sekda Ideal Tinggal di Cilegon
Kriteria lainnya, Tahyar berharap Sekda Kota Cilegon merupakan figur yang berdomisili di Cilegon. Menurutnya, kedekatan tempat tinggal dengan masyarakat akan membuat seorang Sekda lebih memahami persoalan yang terjadi di lingkungan sekitarnya.
Ia menilai hal tersebut bukan persoalan primordial maupun diskriminatif, melainkan bentuk komitmen dan goodwill seorang pejabat untuk mengurus daerah yang dipimpinnya.
“Sekda itu bekerja 24 jam asumsinya, sama dengan wali kota dan wakil wali kota. Karena itu kita berharap Sekda adalah orang yang tinggal dan berdomisili di Cilegon,” katanya.
Dari perspektif Islam berkemajuan, Tahyar juga berharap calon Sekda memiliki ketakwaan, empati terhadap masyarakat serta integritas yang baik.
Ia menekankan pentingnya rekam jejak yang bersih, khususnya dari persoalan korupsi maupun nepotisme.
Sekda Harus Berani Evaluasi ASN
Tidak hanya berbicara mengenai karakter personal, Tahyar juga menyoroti fungsi Sekda sebagai pejabat yang berada di posisi strategis dalam mengelola aparatur sipil negara (ASN).
Menurutnya, Sekda harus mampu mengayomi, menertibkan dan mendisiplinkan ASN agar seluruh perangkat pemerintahan bekerja secara maksimal.
Ia menilai evaluasi terhadap kinerja ASN perlu dilakukan secara serius. Bahkan, menurutnya, ASN yang terbukti melanggar aturan atau tidak menjalankan tugas dengan baik harus diberikan tindakan sesuai ketentuan yang berlaku.
“Kita harus mengevaluasi pegawai-pegawai yang tidak cukup punya kinerja secara maksimal. Tidak menutup kemungkinan ASN yang bermasalah dan melanggar peraturan diberikan sanksi, bahkan bisa diberhentikan sesuai aturan,” tegasnya.
Tahyar juga menyinggung perkembangan teknologi informasi yang menurutnya harus dimanfaatkan untuk meningkatkan pengawasan dan produktivitas aparatur.
Menurutnya, jangan sampai masih terdapat ASN yang menghabiskan waktu kerja untuk bermain telepon seluler atau aktivitas lain yang tidak berkaitan dengan pekerjaan.
“Jangan sampai ASN kita banyak yang menganggur, tidak bekerja, atau sekadar main game dan main HP. Ini harus dipotong dengan pengawasan yang baik,” ujarnya.
Ia menyebut pemanfaatan teknologi, termasuk sistem pengawasan berbasis CCTV di lingkungan kerja, dapat menjadi salah satu instrumen untuk meningkatkan kedisiplinan ASN. Namun, pengawasan tersebut tetap harus ditempatkan dalam koridor aturan dan tata kelola pemerintahan yang baik.
Pada akhirnya, Tahyar berharap proses pemilihan Sekda Kota Cilegon benar-benar menghasilkan figur yang mampu menjadi penggerak birokrasi sekaligus menopang visi dan program Wali Kota serta Wakil Wali Kota.
“Sekda secara administratif harus bisa menopang fungsi kepala daerah dan wakil kepala daerah. Karena itu, yang dibutuhkan adalah orang yang punya kemampuan, pengetahuan, integritas dan kekuatan untuk menggerakkan ASN,” pungkasnya.
























