Sanggar Ubrug Cilegon Dapat Suntikan Semangat dari PT Vopak, 30 Anak Muda Digembleng Seni Tradisional

2

IMG 20260520 WA0039

CILEGON | BIDIKBANTEN.COM – Di tengah gempuran budaya modern dan tontonan instan media sosial, secercah harapan buat seni tradisional di Kota Cilegon masih menyala. Sanggar Ubrug Cilegon Seniki mendapat dukungan program pembinaan dan pelatihan seni budaya bersama PT Vopak Terminal Merak.

Program tersebut dipimpin langsung oleh pimpinan sanggar, Roni Geseng, dengan melibatkan puluhan peserta muda yang siap digembleng menjadi generasi penerus seni tradisional Banten.

Sebanyak 30 peserta usia 13 hingga 20 tahun ikut dalam program pembinaan tersebut. Mereka dibina dalam tiga bidang utama, yakni seni tari, musik tradisional, dan teater tradisional Ubrug yang selama ini mulai jarang disentuh generasi muda.

Perwakilan dari PT Vopak Terminal Merak yang hadir dalam kegiatan itu antara lain Pak Memed dan Bu Ajeng. Kegiatan juga turut dihadiri Ketua RT 01/03 Lingkungan Cidangdang Mulhatini serta Ketua Yayasan Dua Samudra Sejahtera, Inda Arsyi.

Menurut Roni Geseng, pembinaan ini bukan sekadar latihan biasa, melainkan upaya menjaga napas budaya lokal agar tidak hilang ditelan zaman.

“Anak-anak sekarang lebih banyak kenal budaya luar dibanding budaya daerah sendiri. Kalau bukan kita yang rawat, siapa lagi?” ujarnya.

Dalam program tersebut, para peserta mendapat berbagai dukungan penunjang latihan, mulai dari satu set alat musik tradisional patingtung, satu set alat musik daur ulang oseng percussion, kaos seragam latihan, biaya transport peserta dan relawan pelatih selama tiga bulan masa pembinaan, hingga snack untuk kebutuhan latihan.

Program ini dinilai menjadi langkah positif dalam menjaga eksistensi seni tradisional khas Banten, khususnya Ubrug yang selama ini dikenal sebagai seni pertunjukan rakyat penuh pesan sosial, kritik kehidupan, dan hiburan khas masyarakat bawah.

Di sisi lain, pembinaan seperti ini juga menjadi ruang alternatif bagi anak-anak muda agar memiliki kegiatan positif dan kreatif di lingkungan mereka.

Bukan cuma soal menari atau bermain musik. Tapi soal menjaga identitas daerah agar tidak punah pelan-pelan.