CILEGON | BIDIKBANTEN.COM – Pimpinan Adz-Dzikra Indonesia, Buya Tsabit menyampaikan harapan dan pesan khusus kepada para lulusan santri Hafidz dan Hafidzoh angkatan 2026 agar tetap menjaga hafalan Al-Qur’an dan akhlak ketika kembali ke tengah masyarakat.
Menurutnya, tantangan terbesar seorang penghafal Al-Qur’an justru dimulai setelah keluar dari lingkungan pondok pesantren. Sebab di era modern saat ini, generasi muda dihadapkan pada derasnya pengaruh media sosial, pergaulan bebas, hingga krisis moral yang perlahan menggerus nilai agama.
“Jangan sampai setelah lulus, hafalan Qur’annya perlahan hilang karena sibuk dengan urusan dunia. Al-Qur’an harus tetap dijaga dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Buya Tsabit.
Ia berharap para lulusan Ponpes Adz-Dzikra Indonesia mampu menjadi generasi yang bukan hanya kuat dalam hafalan, tetapi juga memiliki adab, kepedulian sosial, dan mampu menjadi contoh baik di lingkungan masing-masing.
Menurutnya, seorang hafidz Qur’an memiliki tanggung jawab moral untuk membawa nilai-nilai kebaikan di tengah masyarakat.
“Menjadi penghafal Al-Qur’an bukan soal gelar atau kebanggaan semata. Tapi bagaimana Qur’an itu hidup dalam sikap, ucapan, dan perilaku,” katanya.
Selain menyampaikan pesan kepada para alumni tahfidz, Buya Tsabit juga memberikan himbauan kepada para calon santri dan orang tua yang ingin bergabung di Adz-Dzikra Indonesia.
Ia mengatakan, pondok pesantren tersebut hadir sebagai tempat pembinaan generasi Qur’ani dengan fokus pada pendidikan tahfidz, pembentukan akhlak, kedisiplinan, dan kemandirian santri.
Ponpes Adz-Dzikra Indonesia sendiri berlokasi di Jalan Dharma Kusuma Pagebangan Nomor 165, Ketileng Barat, Kota Cilegon, Banten. Pondok pesantren ini dikenal konsisten membina generasi penghafal Al-Qur’an dan telah meluluskan banyak santri tahfidz dari berbagai angkatan.
Dengan lingkungan religius dan suasana pembelajaran yang fokus pada pendidikan Islam, Adz-Dzikra terus berkembang menjadi salah satu pondok tahfidz yang mulai dikenal masyarakat Cilegon dan sekitarnya.
“Kami berharap semakin banyak anak muda yang mau mendekat kepada Al-Qur’an. Karena di zaman sekarang, anak-anak bukan hanya butuh ilmu dunia, tapi juga benteng moral dan agama,” ungkapnya.
Ia juga berharap masyarakat, pemerintah, dan pihak industri di Kota Cilegon ikut memberikan perhatian terhadap pendidikan pesantren sebagai bagian penting dalam menjaga masa depan generasi bangsa.
Menurutnya, pembangunan daerah tidak cukup hanya berbicara soal industri dan ekonomi, tetapi juga harus diimbangi dengan pembangunan moral dan spiritual generasi muda.
“Kalau generasi mudanya kuat akhlak dan agamanya, insyaAllah masa depan daerah juga akan lebih baik,” tutupnya.


























