IHSG Terguncang, Dirut BEI Mundur: Daerah Industri Terancam Efek Domino

27

IMG 20260131 WA0003BIDIK BANTEN –  Pengunduran diri Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI), Iman Rachman, di tengah anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dua hari terakhir, dinilai bukan sekadar isu elite pasar modal di Jakarta. Gejolak ini berpotensi menimbulkan efek domino hingga ke daerah, terutama kawasan industri.

Pasar modal yang terguncang kerap menjadi sinyal melemahnya kepercayaan investor. Ketika kepercayaan itu goyah, dampaknya tidak berhenti di lantai bursa, melainkan merembet perlahan ke sektor riil di daerah yang bergantung pada investasi dan proyek industri.

Investor Ngerem, Daerah Mulai Terasa

Kondisi pasar yang tidak stabil biasanya membuat investor mengambil sikap aman dengan menahan ekspansi. Rencana pembangunan pabrik, penambahan modal, hingga proyek baru cenderung ditunda sambil menunggu situasi membaik.

Bagi daerah industri seperti Cilegon dan sekitarnya, langkah ini menjadi peringatan serius. Sebab, denyut ekonomi daerah sangat ditopang oleh keberlanjutan investasi.

“Kalau kondisi ekonomi nasional lagi nggak jelas, biasanya proyek langsung di-pending. Kami di daerah pasti kena imbasnya,” ujar AR, pelaku usaha jasa penunjang industri di Cilegon.

Proyek Mandek, Lapangan Kerja Tertekan

Ketika investasi melambat, proyek di daerah ikut tersendat. Tender menjadi sepi, kontrak jasa berkurang, dan aktivitas industri menurun. Kondisi ini berdampak langsung pada tenaga kerja.

Perusahaan cenderung menahan perekrutan, tidak memperpanjang kontrak pekerja, bahkan memangkas jam lembur.

“Sekarang cari kerja saja sudah susah. Kalau proyek makin sedikit, buruh makin kepepet,” kata Feri, pekerja industri yang berdomisili di wilayah Ciwandan.

Daya Beli Turun, UMKM Ikut Lesu

Penurunan penghasilan masyarakat memicu efek lanjutan di tingkat bawah. Warung dan UMKM mulai sepi, pengemudi ojek dan angkutan mengeluh minim penumpang, sementara kebutuhan hidup terus berjalan.

Dalam jangka panjang, kondisi ini berisiko melemahkan ekonomi lokal secara menyeluruh.

Daerah Jangan Jadi Korban Diam

Pengamat kebijakan publik, Rudi Hartono, menilai gejolak pasar modal harus dibaca pemerintah daerah sebagai sinyal peringatan dini.

“Pasar modal itu hulu kepercayaan ekonomi. Kalau terguncang, daerah yang bergantung pada investasi industri jangan pasif. Pemda perlu menyiapkan skenario mitigasi agar dampaknya tidak langsung menghantam masyarakat,” ujarnya.

Menurutnya, tanpa antisipasi, daerah berisiko hanya menjadi penanggung dampak, sementara kebijakan penyelamatan ekonomi berjalan lambat.

Tekanan ke Keuangan dan Program Daerah

Melemahnya aktivitas ekonomi berpotensi menekan pendapatan daerah. Jika kondisi berlarut, ruang fiskal pemerintah daerah bisa menyempit, sehingga berisiko memengaruhi program pembangunan maupun sosial.

Situasi ini dikhawatirkan memperberat beban masyarakat yang sebelumnya sudah terdampak PHK dan penurunan daya beli.

Alarm Serius bagi Daerah

Pengunduran diri Dirut BEI di tengah gejolak IHSG dipandang sebagai alarm keras bahwa perekonomian nasional sedang menghadapi tekanan.

Bagi daerah industri, sinyal ini seharusnya menjadi dorongan untuk bersiap, bukan sekadar menunggu dampak datang.

Tanpa langkah antisipatif, efek domino dari pusat berpotensi menjalar ke daerah, dengan masyarakat kecil sebagai pihak yang paling merasakan akibatnya. (TM)