CILEGON I BIDIK BANTEN – Di tengah kota industri yang keras, ada pemandangan yang bikin adem di sebuah aula.
Satu meja bundar. Taplak batik, 5 botol Cleo tutup merah, gelas kaca, dan kotak tisu putih yang jadi saksi bisu. Di atasnya, dua piring nasi yang sudah setengah habis.
Duduk sejajar di sana, Buya Tsabit Pimpinan Ponpes Adzikra dengan batik maroon dan kacamata kalem, dan Robinsar Wali Kota Cilegon dengan batik coklat motif khas Banten. Dua peci hitam, dua sendok, satu piring harapan yang sama.
Tak ada podium. Tak ada sekat protokoler. Di belakang mereka, ibu-ibu berhijab pink dan bapak-bapak batik menjadi latar yang blur, karena fokus hari itu hanya pada satu hal: adab.
Ini bukan sekadar makan siang. Ini simbol sinergi. Pesantren yang menjaga dzikir dan moral, dan pemerintah kota yang membangun fisik dan masa depan. Ketika keduanya bisa satu meja, Cilegon terlihat utuh — kerasnya baja, lembutnya doa.
Sepiring nasi, dua harapan. Dan dari meja sederhana itulah, harapan itu diaduk.





















