Cegah Banjir Berulang, Wali Kota Cilegon Gerakkan ASN hingga BUMD Tanam Sejuta Pohon

531

lv 0 20260113110703

CILEGON I BIDIKBANTEN.COM – Di tengah banjir yang kembali merendam sejumlah wilayah Kota Cilegon, Pemerintah Kota Cilegon mengeluarkan kebijakan penanaman sejuta pohon dengan menggerakkan seluruh aparatur sipil negara (ASN) hingga jajaran Badan Usaha Milik Daerah (BUMD). Langkah ini diklaim sebagai bagian dari upaya menekan banjir berulang yang terus terjadi setiap musim hujan.

Kebijakan tersebut tertuang dalam surat Wali Kota Cilegon Robinsar tertanggal 12 Januari 2026, yang ditujukan kepada seluruh OPD, BUMD, camat, dan lurah. Dalam surat itu, ASN hingga jajaran BUMD diminta ikut berpartisipasi langsung dengan menyediakan bibit pohon keras.

Pemkot Cilegon menilai penanaman pohon menjadi salah satu langkah penting untuk menjaga keseimbangan ekosistem, mengurangi limpasan air hujan, serta menekan risiko erosi tanah yang selama ini memperparah dampak banjir di sejumlah titik rawan.

Jenis pohon yang diminta antara lain trembesi, mahoni, sengon, akasia, ketapang, dan jati, dengan tinggi minimal satu meter. Seluruh bibit diwajibkan dikumpulkan di Lapangan Tengah Sekretariat Daerah Kota Cilegon, paling lambat Kamis, 15 Januari 2026.

Menariknya, kebijakan ini tidak hanya bersifat imbauan. Pemkot Cilegon juga mengatur jumlah bibit yang harus disiapkan berdasarkan jenjang jabatan. Untuk OPD, pejabat Eselon II diminta menyediakan 20 pohon, Eselon III 15 pohon, Eselon IV 5 pohon, sementara staf atau pelaksana cukup 1 pohon. Skema serupa berlaku di lingkungan BUMD, mulai dari direksi hingga staf.

Sejumlah titik di Kota Cilegon memang tercatat berulang kali terdampak banjir setiap musim hujan. Kawasan permukiman padat, daerah hilir sungai, hingga wilayah dengan sistem drainase lama kerap menjadi langganan genangan. Kondisi ini menegaskan bahwa persoalan banjir tidak semata dipicu curah hujan tinggi, tetapi juga berkaitan dengan tata kelola lingkungan, alih fungsi lahan, dan minimnya daerah resapan air.

IMG 20260113 112409

 

Dalam konteks tersebut, program penanaman sejuta pohon dipandang sebagai langkah pendukung, namun bukan solusi tunggal. Efektivitasnya baru akan terasa jika dibarengi pembenahan drainase, pengendalian pembangunan di kawasan rawan banjir, serta perlindungan ruang terbuka hijau yang tersisa.

Respons warga pun beragam. Asep (42), warga Kota Cilegon, menilai program tersebut sebagai langkah positif, namun berharap tidak berhenti pada simbol semata.

“Kalau cuma nanam pohon mah gampang. Tapi yang sering kejadian, setelah itu nggak dirawat. Kalau mau cegah banjir berulang, harus serius dari awal sampai akhir,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Rina (35), warga di wilayah yang kerap terdampak banjir.

“Setiap hujan deras kami kebanjiran lagi. Mudah-mudahan pohonnya benar-benar ditanam di daerah rawan, bukan cuma di sekitar kantor atau taman kota,” katanya.

Sementara itu, Dedi (50) menilai program ini perlu ditopang perencanaan yang matang.

“Gerakannya bagus, tapi jangan dadakan. Harus jelas siapa yang rawat dan bagaimana pengawasannya,” ucapnya.

Di tengah kondisi banjir yang kembali terjadi, publik kini menunggu sejauh mana program sejuta pohon ini mampu menjadi solusi jangka panjang untuk menekan banjir berulang di Kota Cilegon. (*/San)