SERANG | BIDIKBANTEN.COM – Warga Mancak lagi-lagi dibuat geleng kepala. Bukan karena macet, bukan juga karena harga cabe, tapi gara-gara isi bensin malah bikin motor “ngambek”.
Kejadian ini mencuat setelah sejumlah warga mengeluh kendaraannya bermasalah usai isi BBM di salah satu Pertashop di Kecamatan Mancak, Kabupaten Serang. Niat hati mau jalan lancar, eh malah harus dorong motor ke bengkel. Ironis? Jelas.
Menanggapi situasi yang makin bikin gerah, PT Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Barat (JBB) akhirnya angkat suara. Tanpa banyak basa-basi, sejak Rabu malam, 25 Maret 2026, operasional Pertashop tersebut langsung dihentikan sementara.
Langkah ini disebut sebagai bagian dari proses investigasi. Bahasa resminya sih “pendalaman”, tapi kalau diterjemahkan ke bahasa rakyat: “Ada yang nggak beres, dan ini serius.”
Hingga Jumat (27/3), tercatat sudah 38 motor warga yang kena imbas. Bukan angka kecil. Bayangin saja, satu motor itu bisa jadi tulang punggung aktivitas sehari-hari. Dari ngojek, nganter anak sekolah, sampai cari nafkah.
Motor-motor itu kini sudah ditangani di bengkel yang ditunjuk. Pertamina bilang, semua sedang diperiksa dan diperbaiki. Tapi pertanyaannya, siapa yang tanggung kerugian waktu dan tenaga warga?
Di sisi lain, Pertamina memastikan kejadian ini hanya terjadi di satu titik. Katanya, tidak ada Pertashop atau SPBU lain di wilayah Mancak yang mengalami hal serupa.
Pernyataan ini terdengar menenangkan, tapi tetap saja menyisakan tanda tanya: kalau cuma satu lokasi, berarti ada kemungkinan kelalaian di titik itu, kan?
Nah, di sinilah bagian menariknya. Pertamina juga membuka kemungkinan adanya pelanggaran. Kalau nanti terbukti ada kelalaian dari pihak penyalur atau transportir BBM, mereka janji tidak akan main-main.
Sanksi tegas, katanya.
Pertanyaannya lagi: tegas itu sejauh apa? Jangan sampai cuma jadi jargon manis yang hilang setelah berita reda.
Di tengah polemik ini, Pertamina tetap mengklaim komitmennya dalam menjaga kualitas BBM. Mereka juga mengingatkan semua lembaga penyalur untuk patuh pada standar operasional.
Kalimat yang bagus. Tapi publik sekarang bukan cuma butuh janji, mereka butuh bukti.
Buat warga yang ingin cari informasi atau mengadu, Pertamina membuka akses melalui Call Center 135 atau email resmi mereka.
Namun satu hal yang tidak bisa diabaikan: kepercayaan publik itu mahal. Sekali retak, butuh waktu panjang untuk memperbaikinya.
Dan sekarang, bola panas ada di tangan Pertamina. Masyarakat tinggal menunggu, ini akan jadi sekadar “insiden teknis”… atau pintu masuk terbukanya masalah yang lebih besar.
























