Yusuf Amin Ultimatum PT KTI: “Kalau Masih Bungkam, Kebonsari Turun Jalan Lagi!”

447

IMG 20251208 WA0018

Cilegon | BIDIKBANTEN.COM – Ketegangan di Kebonsari terus memuncak. Mantan Anggota DPRD Kota Cilegon Yusuf Amin melempar ultimatum keras kepada PT Krakatau Tirta Industri (KTI). Ia menegaskan bahwa jika perusahaan masih menutup diri soal transparansi AMDAL dan tidak mau mendengar aspirasi warga, maka aksi demo lanjutan tinggal menunggu aba-aba.

Menurut Yusuf, warga Kebonsari sudah cukup bersabar. Proyek WTP II tetap berjalan, alat berat keluar-masuk setiap hari, namun warga terdampak tidak pernah diberi ruang bicara. Tidak ada sosialisasi, tidak ada konsultasi publik, dan dokumen AMDAL yang disebut-sebut telah terbit pun tidak pernah diperlihatkan ke masyarakat. “Warga itu bukan batu, bukan pohon. Kami hidup di sini setiap hari, tapi tidak pernah diajak bicara,” tegasnya. Ia menambahkan bahwa AMDAL adalah dokumen publik yang seharusnya terbuka, bukan diperlakukan layaknya rahasia perusahaan.

Keresahan itu langsung menggema ke seluruh wilayah sekitar. Seorang warga Kebonsari menyatakan, “Kami capek dibohongi. Kalau Pak Yusuf suruh turun, kami turun! Kalau perusahaan masih diam, jangan salahkan warga kalau jalanan penuh lagi.” Warga lain menambahkan bahwa dampak proyek tidak main-main: rumah retak, debu berterbangan, dan kebisingan tak pernah berhenti, namun tidak ada satu pun penjelasan resmi dari pihak perusahaan. “Suara kami nggak pernah dianggap,” keluhnya.

Dari wilayah sekitar Kebonsari, keluhan serupa muncul. Banyak warga merasa rekrutmen tenaga kerja lokal tidak berjalan. “Katanya proyek besar, tapi anak-anak sini cuma jadi penonton. Yang kerja kebanyakan orang luar,” ujar warga Citangkil yang hadir dalam forum warga.

Nada paling tegas datang dari Alek (Ngadi Susanto), eks korlap aksi dan warga yang tinggal dekat lokasi proyek. Alek menyebut akar masalahnya sangat jelas: warga sama sekali tidak pernah dilibatkan sejak proyek dimulai. “Kang, dari awal masyarakat nggak pernah dilibatkan. Baik soal tenaga kerja, proses rekrutmen, apalagi sosialisasi. Kita cuma lihat proyek jalan, tapi warga sekitar seolah nggak dianggap,” ujarnya. Ia juga menyoroti kabut gelap soal AMDAL. “AMDAL sampai sekarang nggak jelas. Transparansi nol. Jadi wajar kalau warga curiga. Kalau semuanya resmi, harusnya terbuka.”

Alek menutup dengan tuntutan lugas yang langsung disambut warga lain: “Yang kami mau sederhana: libatkan warga lokal, buka transparansi, dan hargai masyarakat terdampak.”

Tekanan warga yang menumpuk itu kini kembali menguat dan mengarah pada satu kemungkinan besar: aksi lanjutan. Yusuf Amin berdiri paling depan dan menegaskan keras, “Kalau PT KTI tetap bungkam, jangan salahkan masyarakat kalau Kebonsari turun jalan lagi. Kami tidak minta macam-macam, hanya hak kami didengar.”

Warga Kebonsari dan sekitarnya kini benar-benar bersiap. Energi protes sudah kembali menyala. Jika PT Krakatau Tirta Industri masih memilih diam, gelombang massa berikutnya dianggap hanya masalah waktu. (*/Red)