Kekerasan Seksual Terhadap Anak, Arist Merdeka Sirait: Kejahatan Yang Sangat Luar Biasa

644
Ketua Umum Komnas PA, Arist Merdeka Sirait Saat Mengunjungi Rumah Korban Kekerasan Seksual Yang Dilakukan Oleh Ayah Terhadap Anaknya. (Foto, BidikBanten)
Ketua Umum Komnas PA, Arist Merdeka Sirait Saat Mengunjungi Rumah Korban Kekerasan Seksual Yang Dilakukan Oleh Ayah Terhadap Anaknya. (Foto, BidikBanten)

PANDEGLANG, (BidikBanten) – Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait berkunjung ke rumah korban kekerasan seksual yang dilakukan oleh bapak kandungnya di Kecamatan Bojong, Kabupaten Pandeglang. Arist terkejut saat mendengar cerita korban yang telah menjadi korban kebejadan bapaknya selama setahun dan dialakukan setiap hari di rumahnya. “Ini sudah masuk katagori kejahatan seksual berat, dan hukuman yang pantas adalah hukuman kebiri atau seumur hidup,” kata Arist saat berkunjung ke rumah kediaman korban di Kampung Jatake, Desa Cahayamekar, Kecamatan Bojong Rabu sore (21/12/2016).

Arist menambahkan, pengakuan dari korban kekerasan seksual sebut saja bunga gadis berusia 10 tahun yang masih duduk di bangku kelas 6 cukup membuat dirinya terkejut dan tak menyangka bapak kandungnya sendiri tega melakukan perbuatan tersebut. Bahkan menurut pengakuan sang istri bahwa bukan hanya satu anaknya yang menjadi korban, ada dua anak nya lagi yang menjadi korban satu yang berusia 13 tahun dan satu berusia 1 tahun. “Ini namanya keji kang, dalam satu keluarga semuanya ia jadikan pelampiasan nafsu bejadnya,dan perbuatan sang bapak sudah keterlaluan,” tambahnya.

Sementara itu, Wartini, orang tua korban mengaku sangat kecewa dengan perlakuan suaminya tersebut dan tak menyangka suami yang dia kenal sebagai orang pendiam tega melakukan perbuatan tersebut. Ia pun mengaku suaminya yang berprofesi sebagai dukun kampung adalah sosok yang pendiam dan jarang bergaul dengan tetanga. “Saya juga tidak menayangka, kok bisa suami saya tega melakukan perbuatan keji tersebut, padahal itu anaknya sendiri, ujarnya sambil menangis.

Wartini melanjutkan, dengan perbautan suaminya tersebut membuat anaknya jarang bermain apalagi sekolah. Bahkan anaknya sempat meminta berhenti untuk sekolah karena malu kerap di ejek oleh teman-teman di sekolahnya. “Dia bilang mau berhenti sekolah aja, karena sering di ejek teman-temannya. Dan untuk kasus hukum suaminya anak-anak mengaku sudah tak mau bertemu sang abpak karena trauma, tukasnya. (Agus/BBC)