CILEGON | BIDIK BANTEN – Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di Kota Cilegon melonjak tajam sepanjang 2025. Data Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) mencatat sedikitnya 614 warga Cilegon terdampak PHK dan kembali mendaftar sebagai pencari kerja.
Angka ini melonjak drastis dibanding 2024 yang hanya 167 orang. Dalam satu tahun, lonjakan korban PHK hampir empat kali lipat.
“Sepanjang 2025 warga Cilegon yang ter-PHK dan mendaftarkan diri sebagai pencari kerja tercatat 614 orang,” ujar Pengantar Kerja Ahli Muda Disnaker Kota Cilegon, Ahmad Taufan Taufani, Senin (19/1/2026).
Industri Jalan, Warga Lokal Tersingkir
Lonjakan PHK terjadi seiring selesainya sejumlah proyek pembangunan industri di Cilegon. Saat proyek rampung, tenaga kerja kontrak otomatis kehilangan pekerjaan.
Salah satu proyek yang telah selesai masa kontraknya adalah pembangunan pabrik milik PT Lotte Chemical Indonesia. Selain itu, sejumlah perusahaan juga melakukan efisiensi akibat tekanan ekonomi global.
“Proyek selesai, tenaga kerja ikut selesai. Dampaknya langsung terasa pada angka pengangguran,” jelasnya.
Keluhan Warga: Susah Masuk Industri, Mudah Kena PHK
Di tengah gempuran proyek industri, keluhan warga Cilegon justru semakin keras terdengar. Banyak masyarakat mengaku sulit menembus dunia industri di kota sendiri.
“Kerja di pabrik itu susah masuknya. Kalau proyek selesai, kami yang pertama kena PHK,” keluh seorang warga Cilegon yang enggan disebutkan namanya.
Keluhan lain datang dari warga yang merasa hanya dijadikan tenaga kerja sementara, tanpa kepastian masa depan.
“Industri di Cilegon besar-besar, tapi warga lokal cuma kebagian kerja proyek. Habis itu nganggur lagi,” ujar warga lainnya.
Fenomena ini membuat sebagian masyarakat mempertanyakan arah pembangunan industri di Cilegon: apakah benar-benar berpihak pada warga lokal, atau hanya menguntungkan perusahaan besar.
Mayoritas Korban PHK Lulusan SMA dan SMK
Data Disnaker menunjukkan korban PHK didominasi lulusan pendidikan menengah. Dari total 614 orang:
Tidak tamat SD: 1 orang
Lulusan SD: 13 orang
Lulusan SMP: 21 orang
Lulusan SMA/SMK: 399 orang
Diploma: 45 orang
S1–S2: 135 orang
“Mayoritas berasal dari lulusan SMA dan SMK,” tambahnya.
Ironi Kota Industri
Di sisi lain, jumlah pencari kerja di Cilegon pada 2025 tercatat 4.276 orang, turun dibanding 2024 yang mencapai 6.430 orang. Penurunan ini disebut terjadi karena sebagian warga melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi.
Namun, realitas di lapangan menunjukkan paradoks:
industri tumbuh, investasi masuk, tetapi stabilitas kerja warga lokal justru rapuh.
Bagi sebagian warga, Cilegon bukan lagi kota industri yang menjanjikan, melainkan kota proyek yang datang dan pergi, sementara masyarakatnya terus bergulat dengan ketidakpastian kerja.
Pertanyaan yang Menggantung
Jika setiap proyek selesai selalu diikuti gelombang PHK, lalu di mana posisi warga lokal dalam ekosistem industri Cilegon?
Apakah mereka hanya dibutuhkan saat pembangunan, lalu disingkirkan ketika pabrik mulai beroperasi?
(*/Dayat)

































