Bangunan Sekolah Retak, Keselamatan Pelajar Dipertaruhkan
KABUPATEN TANGERANG – Proses belajar mengajar di SMAN 5 Kabupaten Tangerang berubah menjadi momen mencekam. Plafon ruang kelas X tiba-tiba ambruk saat kegiatan belajar berlangsung, Kamis (22/1/2026) pagi sekitar pukul 08.00 WIB.
Peristiwa itu bukan hanya mengejutkan, tapi juga melukai para siswa. Data terbaru mencatat, jumlah korban bertambah menjadi 12 orang, terdiri dari dua siswa laki-laki dan 10 siswa perempuan. Mereka mengalami luka ringan hingga sedang akibat tertimpa material plafon yang runtuh.
“Korban yang mengalami luka berjumlah 12 orang,” kata Kasi SMA Kantor Cabang Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Banten Wilayah Kabupaten Tangerang, Nunung Syarif Hidayat, saat dikonfirmasi.
Plafon Sudah Rusak, Hujan Jadi Pemicu
Insiden terjadi saat guru Geografi, Syifa Salsabila, sedang mengajar di kelas yang diisi sekitar 15 hingga 20 siswa.
Ironisnya, tanda-tanda kerusakan sudah terlihat sejak sebelumnya. Plafon diketahui berlubang di bagian tengah dan mengalami rembesan air hujan. Pada saat kejadian, hujan dengan intensitas cukup lebat memang mengguyur wilayah Kabupaten Tangerang.
Beberapa siswa sempat mendengar suara mencurigakan dari atas plafon, seperti ada benda bergerak atau binatang berlari. Tak lama kemudian, plafon runtuh secara tiba-tiba, menimpa siswa dan guru di dalam kelas.
Trauma di Ruang Belajar
Beruntung, insiden tersebut tidak menimbulkan korban jiwa. Namun, luka fisik bukan satu-satunya dampak. Para korban juga mengalami trauma akibat peristiwa yang terjadi di ruang belajar yang seharusnya menjadi tempat paling aman bagi pelajar.
Seluruh siswa yang terluka langsung dievakuasi ke Unit Kesehatan Sekolah (UKS) untuk mendapatkan perawatan dan pendampingan.
Peristiwa ini kembali membuka persoalan lama: kondisi bangunan sekolah yang luput dari perhatian. Jika kerusakan sudah terlihat sejak awal, pertanyaannya sederhana tapi menohok: mengapa ruang kelas tetap digunakan?
Insiden di SMAN 5 Kabupaten Tangerang menjadi pengingat bahwa keselamatan siswa bukan sekadar angka dalam laporan, melainkan tanggung jawab nyata yang tak bisa ditunda.
(*/han)































