Pengusaha Lokal ini Tuding PT Taisei Langgar Kesepakatan 

299
IMG_20210302_125124
Mutakin (PT Permata Sangiang) dan Hasbani (PT Pradana Mutiara Perkasa).

Sulitnya mendapatkan pekerjaan di PT Taisei Intan membuat sejumlah pengusaha lokal setempat merasa tidak dihargai sebagai masyarakat ring satu, terlebih sebelumnya pernah ada kesepakatan antara pengusaha lokal dengan manajemen perusahaan yang pernah dibangun saat perusahaan tersebut akan dibangun.

Hasbani, warga Gerem yang berprofesi sebagai pengusaha lokal itu merasa dipermainkan oleh manajemen PT Taisei Intan. Pasalnya, pria berkumis lebat yang tergabung sebagai pengurus Pengusaha Gerem New ini menuturkan saat ini dia dan kawan-kawannya kerap dipersulit saat memperoleh pekerjaan diwilayahnya sendiri, dan pihak Taisei selalu mencari-cari alasan yang tidak relevan terkait kepentingannya sebagai pengusaha lokal.

“Saat awal akan di bangunnya pabrik ini pernah ada kesepakatan dengan kami, pengusaha Gerem namun dalam perjalannya entah kenapa pihak Taisei mengingkari komitmen yang dibuatnya sendiri, hal ini pernah saya pertanyakan ke pihak manajemen Taisei namun jawabannya mengada-ada dan mengatakan ada pihak lain. Nah ini yang membuat saya jengkel, dan kami ini merasa di bonsai, jadi suplayer maupun main power seperti kami ini tidak pernah dikasih proyek tidak lebih dari 20℅”ungkapnya, Rabu (3/3) 2021).

Direktur PT Pradana Mutiara Perkasa
pun menceritakan awal perusahaan main contractor itu membangun pabrik perluasan milik PT MC PFI yang berlokasi di Jl. Raya Merak, Grogol, Gerem, Cilegon, Kota Cilegon itu pihaknya pernah membangun kesepakatan bersama antara pengusaha Gerem yang tergabung dalam Forum Komunikasi Pengusaha Gerem (FKPG) bersama PT Taisei Intan dalam sebuah pertemuan dan membuahkan kesepakatan bersama dengan komitmen memprioritaskan pengusaha lokal dan masyarakat sekitar, namun dalam perjalanannya pihak Taisei pulalah yang mengingkari kesepakatan itu.

Hal senada diungkapkan oleh Mutakin yang juga berprofesi sebagai pengusaha lokal, bahkan Takin menyoal keberadaan pihak luar yang dinilainya bekerjasama d ngan PT Taisei memonopoli pekerjaan diwilayahnya sehingga dia dan teman-temannya tidak mendapatkan porsi pekerjaan sebagaimana kesepakatan bersama yang pernah dibangun.

“Sejak proyek Taisei ini berjalan, perusahaan saya PT Permata Sangiang
belum pernah mendapatkan pekerjaan di proyek itu, padahal usaha mah gak kurang-kurang saya lakukan. Herannya lagi malah perusahaan luar yang sering mendapatkan pekerjaan bahkan dalam porsi yang besar lagi. Terus kami yang setiap harinya berada di Gerem ini apa jadi penonton saja? Inikan tidak adil”keluhnya.

(Dik/red)