Pemimpin Perempuan Masih Sebatas Motivator Bagi Kaumnya

    799

    Pemimpin Perempuan Masih Sebatas Motifator Kaumnya

    Serang,
    Pemimpin perempuan diharapkan tidak hanya sebatas motifator kaum perempuan untuk mengimbangi peran laki-laki dipelbagai kesempatan. Namun dengan kepemimpinan perempuan tetap melaksanakan amanah untuk menciptakan kesejahteraan masyarakat.

    Demikian terungkap saat peluncuran buku Ratu Atut Chosiyah dan Signifikansi Pemimpin Perempuan, di Pendopo Gubernuran, selasa (6/12). Peluncuran buku tersebut dengan diskusi dengan thema Percepatan Reformasi Birokrasi, mendatangkan nara sumber dari LIPI, R Siti Zuhro MA MhD, dan Prov. Ngadisa. Menurut Zuhro, birokrasi bersih dan melayani dipemerintahan daerah harus dimulai dengan sikap pemimpin daerah.

    Katanya, yang jadi pemimpin daerah dewasa ini lebih pada dominasi politik kekerabatan. Selain itu peran partai politik begitu menguasai keadaan birokrasi. Maka keadaan ini di Banten gubernurnya perempuan menunjukkan diri harus lebih baik dengan daerah yang lain. “Tidak disangka Gianyar, Bali, birokrasinya baik selalu mendapat penghargaan. Pemimpin yang baik itu dirindukan kalau pergi pasti dirindukan masyarakatnya,” katanya.

    Sedangkan, Ngadisa, mengatakan, peraturan terlalu banyak itu tidak baik, karena semakin mengikat. Selain itu tentang reformasi birokrasi sesungguhnya bukan peraturannnya tapi orangnya. “Kita harus punya etika malu dalam birokrasi, juga dalam kepemimpinan. Tidak dilarang dalam undang-undang, anak, kerabat, atau saudara kita untuk jadi pemimpin secara bergantian, tapi tidak etis,” ujarnya.

    Peluncuran buku yang dihadiri Wabub Serang, Hj Tatu Chasanah, sebagai wakil keluarga Atut, menyampaikan, secara kebetulan keluarga Atut banyak yang jadi pemimpin daerah terpaksa harus memahami akan tuntutan kesejahteraan. “kami selalu dukung mendukung dalam keluarga untuk mewujudkan kesejahteraan,” katanya.

    Sedang koordinator penulisan buku Signifikasi Pemimpin Perempuan, Kurdi Matin, mwengatakan, pembuatan buku juga lebih mengarah pada budaya leterasi. Ujarnya, di Banten perlu banyak membuat buku agar generasi mendatang tahu keadaan sekarang. Begitu pula yang disampaikan Agus Faisal Karim, yang juga sebagai tim pembuatan buku itu. Agus mengatakan, terlebih pemimpin atau kepala dinas, kalau tidak membuat buku bagai pimimpin “bebongkong,(setan)”.***(ibnu ps megananda)

    Comments are closed.