Pabrik Tekstil Berjibaku dengan Cicilan Utang, Bank Makin Takut!

157

7e2a6670-dda3-48b8-9f32-fe34889e21ab_169

Perusahaan tekstil mengalami kesulitan untuk bertahan di masa pandemi karena tekanan keuangan yang berat sehingga ada sebagian yang sulit mencicil ke bank.

Sialnya lagi, modal usaha yang biasa didapatkan dari perbankan tidak lagi bisa didapatkan, karena perbankan asing menarik portofolio dari sektor Tekstil dan Produk Tekstil (TPT).

“Jadi bank asing ini menarik diri dari portofolio TPT, jadi susah untuk mendapatkan kebutuhan modal kerja. Jadi misalnya modal kerja biasa itu kebutuhan Rp 10 miliar sekarang paling hanya dapat Rp 8 – 7 miliar. Sulit untuk me-running full operasional,” kata Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Jemmy Kartiwa, Jumat (18/6/2021).

Menurut Jemmy saat ini yang terpenting saat ini bukan modal kerja tapi yang dibutuhkan adalah akses pasar baik ekspor dan domestik.

Jemmy mengatakan modal kerja hanya dari satu dari banyak masalah lainnya. Saat ini biaya ongkos logistik juga makin mahal, misalnya harga angkut kontainer yang naik berkali-kali lipat dibandingkan negara lain.

“Covid-19 ini menghantam seluruh dunia, jadi karena letak geografis Indonesia di bawah jadi kita kalau ekspor ke Eropa dan Amerika Latin itu mahal sekali. Posisi mereka di atas, kita di bawah jauh. Contoh Indonesia ke Turki dulu biaya Freight US$ 3.000, sama India ke Turki paling US$ 2.000, beda beda US$ 1000,” katanya.

“Nah sekarang ini bedanya bisa sampai US$ 8.700 untuk kontainer berukuran 40 kaki, ini kan masalah banget, istilahnya kita mau bayar harga standard cost and freight (CNF),” tambahnya.

Hal ini mengganggu daya saing produk tekstil Indonesia di pasar ekspor. Selain itu menurut Jemmy ini adil karena Indonesia sudah membuka pasar yang lebar tapi produk ekspor Indonesia masih dipersulit.

“Kita buka pasar lebar dengan populasi besar, tapi ekspor ke negara tersebut dipersulit, ini kita sama-sama benahi, dan bereskan. Ini akan membuat Usaha Kecil dan Menengah rontok,” katanya.

Begitu juga dengan serbuan barang impor di pasar e-commerce. Menurutnya pemerintah sudah harus segera membenahi, supaya UKM tekstil dalam negeri dapat bersaing di dalam pasar domestik.