Naik Pesawat Mahal Tiketnya dan Harus Rapid Test, Pemudik Pilih Naik Bus

203

terminal terpadu pulo gebang

Rumitnya perjalanan keluar kota dengan menggunakan pesawat terbang membuat beberapa penumpang beralih ke bus.

Hal itu dilakukan untuk menghindari rapid test yang menjadi syarat utama dalam penerbangan.

Hal inilah yang dilakukan Budi Afrizal (36), pria yang akan pulang ke kampung halamannya di Padang, Sumatera Barat.

Ia memilih menggunakan bus dari pada pesawat terbang yang harus melakukan berbagai test.

“Kalau naik pesawat minimal harus melampirkan rapid test,” katanya saat ditemui di Terminal Pulogebang, Cakung, Jumat (23/10/2020).

Dan untuk di terminal Pulogebang sendiri, kata Budi, ia hanya diminta untuk mengisi aplikasi CLM (Corona Likelihood Metric).

Petugas yang ada pun ikut membantu pengisian setelah sebelumnya diminta untuk tetap menjalankan protokol kesehatan.

“Setelah mengisi dan hasilnya baik, saya boleh berangkat dari terminal, jadi nggak ribet,” tuturnya.

Dikatakan Budi, selain pemeriksaan yang rumit, ia juga menilai harga tiket pesawat cukup tinggi.

Sehingga agar sesuai dengan kantongnya ia pun beralih menggunakan bus agar bisa ke kampung halamannya.

“Memang kalau naik pesawat selisihnya bisa sampah Rp500 ribu, kan lumayan uangnya bisa buat beli oleh-oleh orang di kampung,” ujarnya.

Budi mengaku, memang ketika menggunakan bus harus menempuh perjalanan hingga dua hari lebih. Namun hal itu tak menjadi masalah karena memang saat akan berangkat sudah menyiapkan bekal.

“Ini sudah bawa rendang juga, jadi nanti kan cuma beli nasi saja. Jadi iritnya lumayan,” ungkapnya.

Dan menjelang libur panjang ini pun, ia memilih pulang lebih awal agar tiket bus harganya tak melonjak.

Selain itu, ia juga menghindari terjadinya penumpukan ketika semua orang pergi berlibur ke kampung halaman masing-masing.

“Ya untungnya tadi beli tiket harganya masih wajar. Karena kan memang nggak boleh bawa penumpang lebih dari 50 persen,” ungkapnya. (ifan)