Menko Luhut Panjaitan Angkat Bicara Soal Rencana Penghapusan Minyak Goreng Curah

142

Pemerintah akan menghapus secara bertahap perdagangan minyak goreng curah. Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan menyebut, saat ini hanya ada dua negara yang masih menggunakan minyak goreng curah. Yakni Bangladesh dan Indonesia.

Ia mengatakan, penghapusan minyak goreng curah rencananya akan dilakukan secara bertahap untuk beralih ke minyak goreng kemasan sederhana.

“Jadi kita mau (minyak goreng) curah ini kita bikin kemasan sederhana, bertahap ya,” ujar Luhut di kantor BPKP, Rabu (15/6).

Luhut mengatakan, nantinya harga minyak goreng kemasan sederhana pengganti minyak goreng curah akan diupayakan di harga Rp 14.000 per liter. Menurutnya, harga tersebut bisa dijaga asalkan suplai bahan baku minyak goreng sederhana mencukupi.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Umum Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi) Abdullah Mansuri mengatakan, penghapusan minyak goreng curah sudah diwacanakan beberapa kali dalam tahun-tahun sebelumnya.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Umum Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi) Abdullah Mansuri mengatakan, penghapusan minyak goreng curah sudah diwacanakan beberapa kali dalam tahun-tahun sebelumnya.

“Sejak 2014, sampai terakhir tahun lalu 2021 juga pernah di wacanakan penghapusan minyak goreng curah. Tetapi wacana itu dibatalkan sendiri oleh Kementerian Perdagangan,” ucap Mansuri dalam keterangan tertulisnya, Rabu (15/6).

Mansuri menilai, isu penghapusan minyak curah ini terjadi karena beberapa sebab antara lain higienisitas, dan di dunia cuma ada dua negara yang menggunakan minyak goreng curah yaitu Indonesia dan Bangladesh.

Ikappi melihat beberapa fakta di lapangan penghapusan minyak goreng curah sulit diwujudkan. Hal ini karena memang kebutuhan nasional untuk masyakarat menengah kebawah masih bergantung pada minyak goreng curah sehingga kebijakan tersebut akhirnya dibatalkan.

Mansuri mengatakan, masyarakat menengah kebawah yang berbelanja ke pasar tradisional masih bergantung dan masih sangat membutuhkan minyak curah. Antara lain pedagang gorengan, pedagang kaki lima, warung rumahan atau pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM)

Ikappi melihat bahwa penghapusan minyak goreng curah ini bisa terjadi jika masih ada upaya alternatif pengganti minyak goreng curah dengan harga murah.

“Contoh minyak goreng kemasan sederhana, dengan harga lebih murah dari pada minyak goreng kemasan,” kata Mansuri.

Ia berharap minyak goreng kemasan sederhana yang diharapkan masyarakat menengah kebawah masih bisa di jalankan.

Lebih lanjut, dalam catatan Ikappi minyak goreng curah sudah mengalami penurunan cukup segnifikan. Sebelumnya harga minyak goreng curah sempat tembus di angka Rp 20.000 per liter.

Saat ini, harganya sudah mendekati harga eceran tertinggi HET 14.000 yaitu Rp 15.500 per liter, rata rata di pasar tradisional se indonesia.

Ikappi bersama Satgas Pangan Mabes Polri, ID food dan badan pangan nasional terus berupaya mempercepat pasokan di pasar-pasar tradisional sehingga keberadaan minyak goreng curah terus melimpah.

“Kami berharap agar wacana penghapusan minyak goreng curah ini agar dapat di diskusikan kembali sebelum diputuskan dan diimplementasinya. bagaimana polanya, bagaimana harganya, dan bagaimana distribusinya. karena kendala dan persoalan selama ini terjadi pada harga dan distribusi,” imbuh Mansuri.

(kontan.co.id)