Ketika Dua Kontraktor Saling Baku Hantam di Kantor Dinas Bina Marga

1606

baku hantam ilustrasiTindak kekerasan berlatar belakang masalah proyek konstruksi kembali terjadi di Unit Layanan Penyedia (ULP) Dinas Bina Marga dan Tata Ruang (DBMTR) Banten, Jalan Bhayangkara, Cipocok Jaya, Kota Serang, Senin (24/11).

Berbeda dari sebelumnya, kericuhan kali ini justru terjadi antar pengusaha konstruksi dalam satu perusahaan yang sama, yakni PT MMM. Seperti dilansir banten raya, Kericuhan yang berbuntut adu jotos hingga aksi pembacokan tersebut diduga bermotif perebutan posisi direktur untuk pelaksanaan kegiatan pelebaran dan betonisasi jalan Ciceri-Kebon Jahe, Kota Serang senilai Rp 12,3 miliar.

Berdasarkan pantauan melalui closed circuit television (CCTV) di Kantor DBMTR Banten, kejadian yang terjadi pada Senin (24/11) sekitar pukul 10.30 WIB itu terjadi ketika seorang pengusaha berinisial HP terlibat adu mulut dengan S di koridor kantor Pokja ULP Banten.

Keduanya merupakan pengusaha dari satu perusahaan yang sama selaku pemenang tender atau lelang proyek pelebaran dan betonisasi jalan Ciceri-Kebon Jahe. Menurut informasi yang dihimpun di lokasi kejadian dan keterangan beberapa saksi, mendapat ancaman dari S, HP kemudian memanggil anak buahnya. Datanglah anak buat HP menghampiri S. Namun demikian, anak buah S justru berjumlah lebih banyak daripada anak buah HP.

Merasa terancam dengan banyaknya anak buah S di lokasi, salah satu anak buah HP yang mengenakan kaos putih kemudian mengeluarkan senjata tajam yakni sebilah golok setelah sebelumnya saling adu pukul di koridor kantor ULP. Ayunan golok melayang mengenai tangan kiri S yang digunakan untuk melindungi kepalanya. Spontan darah bercucuran dari lengan kiri S dan berceceran di lantai, dinding, dan beberapa spot di kantor DBMTR. Kemudian, korban S langsung dilarikan ke Klinik Buchori, Benggala untuk mendapatkan pengobatan.

Bukannya takut, anak buah S yang banyak terus mengejar HP dan anak buahnya hingga halaman kantor ULP. Karena tidak membawa senjata tajam, anak buah S menggunakan alat seadanya untuk melawan anak buah HP. Sisa konblok yang ada di halaman Kantor ULP tidak luput menjadi senjata untuk melempari anak buah HP yang melarikan diri dengan memanjat pagar belakang kantor ULP.

Peristiwa yang berlangsung kurang dari 10 menit tersebut terlihat jelas dari CCTV layar keempat yang terpasang di kantor ULP DBMTR Banten. “Ini hasil rekaman dari kamera keempat, Mas,” ujar salah satu staf ULP yang minta tidak disebut namanya kepada wartawan.

Saat dikonfirmasi, Kepala DBMTR Banten M Husni Hasan menjelaskan, insiden atau kericuhan yang terjadi di DBMTR, Jalan Bhayangkara tidak memiliki keterlibatan dengan pegawai atau kinerja dari DBMTR Banten.
Insiden tersebut berlatar belakang adanya konflik internal perusahaan yang melaksanakan pengadaan pelebaran jalan, betonisasi, pembangunan drainase dan gorong-goorng di ruas jalan Ciceri-Kebon Jahe senilai Rp 12,3 miliar. Yakni konflik internal terkait dengan penunjukan direktur yang melaksanakan pekerjaan. “Jadi, ada dualisme di perusahaan pemenang lelang yaitu PT MMM, Jakarta. Maksudnya, tadi itu mau dimediasi oleh PPK kami yaitu Pak Cucu. Artinya, DBMTR harus berurusan dengan siapa nanti dalam proyek itu karena ada dualisme itu. Tapi, belum ada mediasi, sudah terjadi keonaran. Sama sekali tidak terkait dengan bina marga, ini murni masalah internal,” jelas Husni.

Oleh karenanya, pihaknya menyesalkan insiden tersebut karena terjadi di kantor pemerintahan sekaligus lembaga negara. Padahal,  tidak ada hubungannya dengan DBMTR. “Yang begini ini, seringkali dijadikan moment oleh pihak tertentu untuk memancing di air keruh dan memfitnah pemerintah. Saya harap, masyarakat tidak terpengaruh karena kami pastikan bahwa seluruh proses yang dilalui telah sesuai prosedur dan standar yang berlaku. Kami hanya ingin, pembangunan untuk masyarakat ini benar-benar dirasakan manfaatnya, bukan malah disalahgunakan oleh pihak tertentu,” tegas Husni.

(Seno)