Cerita Pemilik Rumah yang Ditutup Tembok Beton, Anak-anak Harus Panjat Dinding Kawat Berduri

238

images (18)

Asep dan keluarganya yang menempati bangunan di kawasan Tajur, Ciledug, Kota Tangerang, Banten, harus bersusah payah untuk keluar masuk dari kediamannya.

Sebab, bangunan yang dijadikan tempat fitnes sekaligus tempat tinggal itu ditutup beton secara paksa oleh salah satu anak mantan pemilik bangunan tersebut.

Asep tinggal bersama tujuh anggota keluarganya di gedung itu sejak dibeli oleh keluarganya pada 2016 melalui sebuah acara lelang bank.

Selain menetap di sana, keluarga Asep juga melanjutkan pengelolaan tempat fitness itu sejak 2016 hingga saat ini.

Dari delapan anggota keluarga tersebut, terdapat empat anak kecil yang masing-masing berusia 2 tahun, 5 tahun, 6 tahun, dan 7 tahun.

Awal mula penutupan akses tempat tinggal Asep terjadi pada Oktober 2019. Salah satu anak dari mantan pemilik gedung itu membangun dua dinding sepanjang jalan gang rumah Asep dengan jarak antar dinding sekitar 2,5 meter.

Semula, anak mantan pemilik gedung yang merupakan ahli waris memberikan akses jalan untuk keluar masuk bagi keluarga Asep selebar 2,5 meter.

Namun, pemberian akses jalan itu hanya bertahan sampai tanggal 21 Februari 2021. Setelah itu, sanak mantan pemilik gedung memilih menutup total akses satu-satunya yang dimiliki keluarga Asep.

Karena penutupan akses jalan tersebut, Asep mengaku aktifitas empat anak yang tinggal di gedung tersebut sangat terganggu dan membahayakan.

Pasalnya, kedua dinding itu terlalu tinggi bagi anak-anak. Untuk bisa sekadar keluar, Asep serta keluarganya meletakkan tangga dan kursi agar dinding itu dapat dipanjat untuk melewatinya.

“Buat anak-anak naik tangga kan susah. Rawan jatoh juga mereka kalau naik tangga, jadinya ya mereka main antar anggota keluarga aja. Enggak main sama anak-anak tetangga,” kata Asep dikutip dari Kompas.com, Minggu (14/3/2021) sore.

Lebih lanjut, Asep menjelaskan, anak-anaknya kini tidak pernah lagi bermain dengan anak-anak tetangganya karena tidak ada akses.

Asep khawatir bila anak-anak itu terluka karena keberadaan kawat berduri yang dipasang ahli waris hingga membentang sepanjang dua dinding itu.

Asep mengaku pernah terluka akibat terpasangnya kawat berduri tersebut.

Anak kecil ya kaya dipenjara aja. Harus manjat, susah. Biasa ke supermarket mereka, sekarang susah. Temennya ya sekarang dari keluarga aja,” ucapnya.

Padahal, kata Asep, di antara keempat anak tersehut ada yang harus mengambil kelas tambahan dan les mengaji tiap sore hari. Sementara itu, beberapa di antaranya ada yang sudah mulai sekolah.

“Ada yang sudah sekolah, tapi kan sekolah online. Tiap sore tapi mereka ngaji, mereka juga pernah jatoh waktu naik tangga itu. Kayunya roboh,” tutur dia.

Terkait parkir kendaraan pribadi, Asep menumpangkan kendaraan bermotornya di rumah atau gedung tetangganya.

“Kendaraan nitip di tetangga. Alhamdulillah punya tetangga baik,” ujarnya.

Selain anak-anaknya, Asep pun mengaku mengalami hambatan dalam berinteraksi dengan orang lain.

Karena adanya dua dinding itu, tukang sampah di permukiman tersebut tak pernah mengambil sampah dari kediaman Asep.

“Ya lewat aja tukang sampah. Enggak pernah masuk, orang enggak bisa. Ini makanya sampah numpuk di deket pager gedung,” ucapnya.

Selain itu, keluarga Asep juga kesulitan untuk membeli bahan pangan. Sebab, tukang sayur keliling di lingkungan itu kesulitan untuk mengakses kediaman Asep.

Kendati demikian, kata Asep, si anak mantan pemilik gedung itu memberikan akses jalan keluar untuk Asep.

Akses keluar atau masuk tersebut terletak di bagian belakang gedung yang menembus jalan gang lain.

Namun, Asep atau anggota keluarga harus melewati pemakaman terlebih dahulu jika ingin melewati jalan itu.

“Kami dikasih jalan tuh pemakaman umum. Itu khusus untuk orang doang. Kendaraan seperti motor atau mobil enggak bisa (masuk atau keluar),” tutur Asep.

Penulis: Tirto Dihartoro