Aset Dijual, Barak Pertanyakan Kinerja PT. Krakatau Steel

1295
Foto, Ist
Foto, Ist

CILEGON, (BidikBanten) – Barisan Rakyat Anti Korupsi (Barak) mempertanyakan Initial Public Offering (IPO) yang dilakukan oleh PT. Krakatau Steel, Kota Cilegon. Selasa (11/07/2017).

Koordinator Barisan Rakyat Anti Korupsi, Danil menyatakan, padao November 2010, PT. Krakatau Steel tercatat menawarkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI) terhitung sejak tanggal 2, 3 dan 4 Nov 2010. Nilai penawaran umumnya saat itu adalah Rp 2,681 triliun, yang terdiri dari 3,155 miliar saham biasa (seri B) dengan harga penawaran Rp 850,- per lembar saham.

“Pada perjalanannya, harga Rp 850,- per lembar sepertinya terkesan di obral, karena hanya berselang beberapa hari harga saham terjual meningkat drastis hingga mencapai 49% atau setara Rp 1.250,- per lembar saham”, katanya.

Lanjut Danil, akibat “obral murah” harga saham tersebut, patut diduga PT. Krakatau Steel kehilangan keuntungan hingga sekitar Rp 1,2 triliun.

“apakah ini masuk kategori memperkaya diri sendiri dan/atau orang lain”, ujarnya.

Berdasarkan informasi dan ata yang diperoleh dirinya, pusaran masalah rupanya tidak berhenti pada persoalan IPO saja, karena hanya berselang beberapa waktu, PT. Krakatau Steel juga menjual saham anak perusahaannya, yakni PT Latinusa. Saat itu, PT. Latinusa tergolong anak perusahaan yang sehat, lalu di akuisisi oleh Konsorsium Jepang yang terdiri atas Nippon Steel dan Sumitomo Metal Coorporation, Mitsui Co.,Ltd, Nippon Steel Trading Co dan Metal One seharga U$D 55,95 juta. Alhasil, dari IPO dan penjualan anak perusahaan tersebut, PT KS memperoleh modal segar sekitar U$D 330 juta.

“jika melihat dari besarnya modal yang diperoleh melalui IPO dan penjualan PT. Latinusa (meskipun sarat kontroversi karena sebagian Direksi sempat tidak mengetahui rencana IPO), mestinya negara bisa menyimpan harapan besar pada PT. Krakatau Steel sebagai industri baja strategis nasional yang dapat memberikan keuntungan (deviden) lebih besar dari sebelumnya”, paparnya

Terlepas dari persoalan untung dan rugi, oleh PT. Krakatau Steel sebesar 35% dana hasil IPO atau sekitar Rp 928,3 miliar kemudian digunakan untuk investasi barang modal yang terkait dengan rencana modernisasi dan ekspansi kapasitas produksi pabrik baja lembar canai panas menjadi 3,5 juta MT yang diharapkan kelar pada 2013. Selanjutnya 25% atau sekitar Rp 648,25 miliar digunakan untuk pematangan lahan seluas 388 Ha, sebagai bagian dari penyertaan modal dalam Joint Venture KS-Posco. Kemudian 15% atau sekitar Rp 388,95 miliar digunakan untuk penyertaan modal di anak perusahaan, yakni PT. Krakatau Bandar Samudera dan PT. Krakatau Daya Listrik. Dan hasilnya, hingga 2013, dana IPO dan penjualan PT Latinusa tinggal tersisa Rp 971,25 miliar.

“Kenapa penggunaan dana IPO & penjualan PT Latinusa bagi ekspansi, modernisasi, penyertaan modal dan lainnya itu tidak menghasilkan keuntungan bagi negara…?
Atau jangan-jangan ada unsur insider trading, baik pra IPO maupun akuisisi PT Latinusa oleh Nippon Steel & Sumitomo Metal Corporation”, tuturnya. (Red/BBC)