Telisik Kehidupan Warga Wilayah Industri dan Warga Perkotaan, “Nyari Makan Di Tanah Sendiri Susah, Warung Tutup Sepi Pembeli”

358

Kota Cilegon masih santer digelari sebagai kota industri padat modal bertaraf internasional mengingat ratusan industri berskala besar bertengger di wilayah ini, ratusan cerobong asap pembuangan seringkali menyala membara ketika sebuah pabrik sedang berproduksi.

Namun derasnya asap industri pertanda tingginya tingkat produktifitas nampaknya tak berbanding lurus dengan kehidupan warganya yang masih berkutat pada persoalan kesejahteraan lantaran sulitnya mendapatkan pekerjaan diwilayah sendiri, itupun bagi masyarakat yang tinggal disekitaran industri.

“Kelihatannya aja enak bagi kami yang tinggal didekat pabrik industri, yang pasti hanya kebagian debunya saja. Tidak sesuai ekspektasi kang, bagaimana tidak orang mau kerja aja harus gabung ke organisasi atau harus dekat dengan yang punya wilayah”ungkap Satibi salah seorang warga sekitar industri, Minggu (24/12/2023)

Lalu bagaimana dengan perekonomian masyarakat yang hidup di perkotaan kota, kita coba telisik seperti apa kegiatan perekonomian warganya.

Kehidupan warga kota Cilegon sebagian didominasi oleh warga yang berprofesi sebagai pedagang, bagi pemilik modal banyak tak sulit membuka ruko namun bagi warga yang kelas bawah cukup sewa kios atau berjualan di pinggiran jalan atau memanfaatkan bahu jalan demi menghemat pengeluaran.

Saat kondisi terparah dirasakan oleh hampir seluruh lapisan masyarakat, mulai dari daya beli yang semakin rendah dan para pedagang yang mengeluh akibat dagangannya sepi pembeli. Lantaran sepinya pembeli sementara biaya sewa ruko dan lainnya harus dibayar akibatnya mereka menutup usahanya.
“Daripada harus nambahin utang untuk modal yang terus-menerus mending kita tutup sementara aja daripada harus nombokin terus-terusan”ujar Amri, warga sekitar  yang menutup usahanya karena sepinya pembeli**

(Part 1)