Kota Cilegon Jadi Pilot Project Keselamatan Kerja Nelayan

962
Suasana Baksos Dan Pengobatan Gratis Oleh Perhimpunan Dokter Kesehatan Indonesia (IDKI) Terhadap Nelayan DI Tanjung Peni.
Suasana Baksos Dan Pengobatan Gratis Oleh Perhimpunan Dokter Kesehatan Indonesia (IDKI) Terhadap Nelayan DI Tanjung Peni.

CILEGON, (BidikBanten) – Kota Cilegon menjadi pilot project atau kota percontohan dalam hal keselamatan kerja nelayan. Dimana keselamatan kerja masyarakat nelayan juga perlu mendapat perhatian serius oleh semua pihak, karena tidak sedikit para nelayan mengalami dampak bahaya dalam pekerjaan sehari-hari mencari ikan di laut. Dampak tersebut seperti penyakit kulit, merusak penglihatan mata bahkan keselamatan nelayan saat di laut.

Hal itu lah yang menjadi perhatian serius oleh PT. DOW, PT.Rohm and Haas Indonesia, bersama Rekonvasi Bhumi, dan IDKI (Perhimpunan Dokter Kesehatan Kerja Indonesia (IDKI). Puluhan masyarakat nelayan Kota Cilegon diberikan pemahaman tentang kesehatan dan keselamatan dalam berkerja. Kegiatan ini berlangsung secara serentak di Pangkalan Nelayan Tanjung Peni dan Tanjung Lelean Kecamatan Grogol, Kota Cilegon, Sabtu (19/11/2016).

Ferry ferdian, Plant Manager PT.Rohm and Haas Indonesia mengatakan, berdasarkan hasil diskusi kepada IDKI yang telah dilakukan, Kota Cilegon merupakan sasaran program pemerintah dari salah satu pilot project tentang keselematan kerja nelayan.  “Kita ingin berkontribusi dengan program pemerintah pusat khususnya pemerintah daerah, yang disambut oleh pemerintah pusat. Ini berhubungan dengan nilai perusahaan kami dalam menyalurkan CSR,” katanya.

Lebih lanjut, Ferry menerangkan hasil pemantauan yang telah dilakukan, Ferry menilai tingkat kesadaran masyarakat nelayan Kota Cilegon akan hal keselamatan dan kesehatan kerja masih rendah. “Kita memberikan suatu pembelajaran bagaimana keselamatan kerja di perusahaan itu sama seperti kerja non formal, seperti nelayan. Seperti kasus tadi yang kita temui di Tanjung Peni, ada nelayan yang buta karena terlalu lama terpapar sinar matahari,” ujarnya.

Dijelaskannya, ada banyak hal yang mempengaruhi bahaya nelayan pada kesehatan dan keselamatan kerja. Apalagi jika nelayan itu sendiri tidak menggunakan Alat Pelindung Diri (APD). “Sakit kulit, dan pendengaran atau vibrasi itu salah satu tolak ukur kita untuk mengurangi kebisingan dan paparan sinar matahari secara langsung. Waktu yang tidak tentu berlayar merupakan salah satu sisi yang menggangu kesehatan,” ucapnya.

Ia berharap kedepannya nelayan mengerti akan potensi bahaya saat bekerja. Dan memepersiapkan alat pelindung diri sebelum berlayar. “Pakai mesin yang vibrasinya rendah, dan menutup fisik dari terpaan matahari dan angin secara langsung. Seperti pakai kacamatan dan pakaian lengan panjang,” tuturnya. (Red)