Ali Mujahidin: “Kembangkan Madrasah dan Pesantren Sebagai Identitas Kota Cilegon Kota Santri”

128

Mumu

Marwah Kota Cilegon yang dulu sempat digelari sebagai Kota Santri, belakangan ini semakin menguat untuk dikembalikan eksistensinya, setidaknya hal tersebut diungkapkan oleh Ali Mujahidin yang saat ini menjadi calon Walikota Cilegon jalur Independent.

“Ketika Islam turun, dakwah Rasulullah yang paling utama adalah memperbaiki umatnya. Ini menjadi uswah yang seharusnya bisa diterapkan di Kota Cilegon,” kata Haji Mumu dalam sambutan pengajian di Rumah Pemenangan Mulia (RPM) di Cilegon, Kamis malam, (29/10/ 2020).

Mumu mengungkapkan, sejarah Kota Cilegon mencatat bahwa santri memiliki peranan penting dalam perjuangan melawan penjajah. Sayangnya, seiring perkembangan zaman, Cilegon mengalami pergeseran degradasi moral pada generasi muda saat ini.

“Ketika tempat hiburan malam semakin menjamur, lembaga pendidikan seperti madrasah dan pondok pesantren malah tidak terurus oleh pemerintah,” katanya.

Peran madrasah dan pondok pesantren, sambung Mumu,  harus mendapat perhatian lebih dari pemerintah.

“Mengingat benteng terakhir pertahanan moral generasi muda saat ini adalah pendidikan islam itu sendiri”ucapnya.

Sebagi calon Wali Kota Cilegon,  menyampaikan pesan perubahan, salah satunya adalah mengembalikan marwah Kota Cilegon sebagai kota santri yang saat ini dinilai banyak pihak citra tersebut semakin memudar lantaran banyak berdirinya tempat hiburan malam.

“Kita bisa lihat, modernisasi yang berkembang di Cilegon malahan salah kaprah. Tempat hiburan yang semakin banyak tanpa memperhatikan lembaga pendidikan yang mencetak peradaban manusia di kemudian hari,” kata Haji Mumu.

Ia menegaskan saat ini sangat penting adanya kebijakan dari Pemerintah Kota Cilegon untuk menciptakan tatanan nilai masyarakat yang religius, untuk menghasilkan generasi muda dengan moral dan mental yang kuat, serta akhlak mulia.

“Jati diri Kota Cilegon ini kan sebagai Kota Santri, maka kembangkan madrasah dan pondok pesantren dengan nilai-nilai luhur kearifan budaya lokal sebagai identitas Cilegon sebagai Kota Santri,” ujar Mumu.

“Dari total APBD Kota Cilegon 2020 sebesar Rp1,844 triliun, apakah tidak mampu menganggarkan bantuan oprasional madrasah dan pondok pesantren?,” kata Ali Mujahidin.

Lebih jauh Mumu menggambarkan, jika saja Pemkot Cilegon lebih proporsional dalam memberikan anggaran oprasional untuk Madrasah dan Pondok pesantren niscaya kota Cilegon tidak megalami degradasi moral seperti sekarangb ini.

“Karena untuk saat ini hanya Pondok Pesantren dan Madrasah yang menjadi benteng terakhir peradaban di kota kita ini”imbuhnya.

(Johan/red)