Aktivis Menilai Energi Perubahan Pilkada Kota Cilegon Ambyar

244

IMG-20200609-WA0043

Jargon perubahan yang di gaungkan oleh para politisi, penggiat sosial maupun oleh para tokoh masyarakat Kota Cilegon dalam mewujudkan tata kelola pemerintahan yang terbebas dari korupsi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat menuju lebih baik belakangan terkesan ambyar dan tak nyata.

Hal itu diutarakan oleh Husen Saidan selaku ketua LSM GAPPURA Banten yang menilai gerakan suara perubahan yang pernah muncul itu semakin tak jelas bahkan ambyar.

Menurut Husen, konteks perubahan itu adalah proses di mana terjadinya sesuatu yang tidak baik menjadi lebih baik, namun, tentunya dengan pengorbanan yang tidak sedikit dan tidak murah. Sangat di sayangkan jika energi perubahan yang ada keluar dari kontek suara perubahan, maka cita-cita perubahan itu tidak akan terealisasi.

“Sejauh ini memang banyak para bakal calon penantang kubu petahana, tapi justru mereka malah terpecah, sehingga potensi energi perubahan yang begitu besar tidak termanfaatkan dengan baik, bahkan justru akan di manfaatkan oleh kubu petahana,” kata Husen, mengawali diskusinya bersama Wartawan di kediamannya, Link. Tegal wangi, Kelurahan Rawa Arum, Kecamatan Grogol, Kota Cilegon,   Senin (8 Juni 2020) malam

Husen mengungkapkan, jaringan kubu petahana yang begitu kuat dan tersistematis hingga akar rumput tidak akan mudah terkalahkan jika para pengusung suara perubahan yang ada masih mementingkan egonya masing-masing. Oleh karena itu kata Husen, sudah semestinya para tokoh pejuang perubahan kembali duduk bersama, berfikir dan melihat kembali konteks suara perubahan untuk Kota Cilegon kedepan.

“Jika para bakal calon yang ada masih mementingkan pribadinya dan bukan mementingkan bagaimana Kota Cilegon kedepan lebih baik, maka jangan harap perubahan akan terjadi. Bagaimana tidak?, Kita harus akui kekuatan kubu petahana begitu besar bahkan hingga akar rumput,” ungkapnya.

Oleh sebab itu Husen mengingatkan kembali peluang untuk membangun energi suara perubahan masih sangat mungkin terjadi dan bisa dilakukan, jika pejuang suara perubahan kembali menyatukan pemikiran dan memahami apa kontek perubahan itu sendiri.

“Peluang masih ada jika para pejuang perubahan mau menyamakan tujuan, tetapi jika para pejuang itu masih mementingkan egonya, ya sudah aklmasi saja, Bu Ati Pasti menang kok. Sebaliknya, jika tokoh pejuang itu bersatu untuk meraih suara dan dukungan seluas-luasnya dari masyarakat, maka masih ada waktu untuk bagaimana menyampaikan kepada masyarakat bahwa Cilegon harus berubah,,” tandasnya.

Husen berharap dari semua tokoh pejuang perubahan yang ada seperti, Helldy Agustian, Reno Yanuar, Ali Mujahidin, Awab dan Iye, dapat kembali berfikir secara jernih dan ihlas serta legowo, bergandengan tangan untuk bagaimana misi suara perubahan dapat tercapai guna melawan kekuatan yang besar demi masyarakat kota Cilegon, membangun mimpi nyata serta mewariskan pembangunan Kota Cilegon secara berkeadilan terhadap anak cucu kedepan.

“Bahkan kalau perlu untuk meyakinkan masyarakat, para kandidat Calon Walikota Cilegon harus mau bersumpah di Masjid yang keramat seperti di Masjid Sumpah Terate Udik yang terkenal keramatnya itu jadi supaya benar-benar terlihat kesungguhannya memperjuangkan perubahan untuk masyarakat kota Cilegon”pungkasnya.

Diketahui,  sejumlah kandidat bakal calon Walikota Cilegon menyuarakan jargon perubahan dalam sosialisasinya,  sebut saja Helldy-Sanuji yang diusung Partai Berkarya dan PKS yang menyuarakan jargon perubahan dengan Hastag #CilegonLebihBaik,  sementara bakal calon Walikota Haji Iye Iman Rohiman pun mengusung Jargon perubahan dengan tema “Tinggalkan masa lalu menuju Cilegon Maju” dan pasangan Mumu-Lian Firman (MULIA)  mengusung semangat perubahan dengan jargon andalan “Dinasti Korupsi Harus Berhenti”.

(You)