Cerita Tim Milenial Banten Berbagi Kunjungi Warga tak Mampu Imbas Wabah Covid-19

0
15618

IMG-20200407-WA0002

Selepas maghrib, empat orang dari tim Milenial Banten Berbagi (MBB) berangkat dari Pusat Pemerintahan Kota (Puspemkot) Serang menuju ke Kampung Ujung Tebu.

Usai menghabiskan kopi dengan tunggangannya masing-masing, kami beriringan meninggalkan Puspemkot dengan tujuan menemui Ibu Kemisah.

Tujuan kami menemui beliau, tidak lain untuk memastikan kabar bahwa di lingkungannya yang berada tepat di belakang Kawasan Pusat Pemerintahan Provinsi Banten (KP3B), hidup sebuah keluarga yang kondisinya memprihatinkan.

Berbekal dari informasi tersebut, kami pun bergegas ke subjek yang dimaksud dengan membawa bantuan yang seadanya.

Sepanjang jalan kami beriringan melewati kantor Gedung Perwakilan Rakyat.

Tak jauh dari situ, Markas Besar Kepolisian Daerah (Polda) Banten serta sederet gedung-gedung Pemerintahan lainnya kami lewati.

Hingga akhirnya kami melintas di depan KP3B, dimana para pejabat beserta orang nomor satu di Banten berkantor.

Tak jauh dari sana, tepat di seberang kantor Bank Banten, ada sebuah gapura yang merupakan jalan masuk menuju ke Kampung Ujung Tebu, Kelurahan Sukajaya, Kecamatan Curug, Kota Serang.

Dari sana, dengan modal penerangan dari lampu motor kami menerobos masuk melintasi lorong yang di selimuti pepohonan.

Sementara dibalik tembok, kami melihat cahaya berkilauan yang berasal dari lampu salah satu gedung kantor di KP3B.

IMG-20200407-WA0003

Beberapa meter ke depan, kami jumpai sebuah warung yang jauh dari pemukiman.

Dari situ kami mulai bertanya, lokasi kampung yang hendak kami tuju.

Selang beberap meter, kami menjumpai pemukiman.

Dari kejauhan, kami dapati anak-anak sedang bermain menutupi jalan yang lebarnya kurang lebih dua meter.

Kami kembali bertanya perihal alamat yang hendak kami tuju.

Rupanya, alamat yang kami tanyakan, masih jauh lurus ke depan.

Beberapa kali kami temukan jalan batu yang berlubang.

Tepat di sebuah pertigaan, kami kembali berhenti dan bertanya kepada seorang warga yang kebetulan tengah melintas.

Dari sana, seorang bocah bersepeda ikut mengarahkan ke alamat yang kami tuju.

Dari belakang, kami kompak mengikuti komandonya.

Tiba di sebuah bangunan pendidikan non formal, kami diarahkan untuk berjalan ke belakang bangunan tersebut yang dianggap sebagai tujuan yang kami maksud.

Namun, rupanya perjalanan yang kami lakukan belum selesai sampai di situ.

Pasalnya, tempat yang di tunjukkan bukan merupakan alamat yang kami maksud.

Saat mengetahui hal itu, dengan kompak wajah kami berempat gugup.

Sambil sedikit malu, kami pun menjelaskan dan menanyakan kembali keberadaan rumah Ibu Kemisah yang kami maksud.

Singkat cerita, kami pun tiba di sebuah rumah yang posisinya berada di ujung pemukiman yang merupakan jalan buntu.

Salah satu dari kami turun dan mulai mengetuk pintu.

Ibu Kemisah yang kami maksud keluar menyambut kami di dampingi suami dan juga anaknya.

Tidak cukup panjang kami menjelaskan, rupanya Ibu Kemisah sudah dapat menangkap tujuan kami datang ke rumahnya malam itu.

Ia pun bergegas keluar mengenakan jilbab dan langsung mengantarkan kami ke sebuah rumah yang tembok rumahnya hanya di lapisi bata merah.

Setibanya di depan pintu, kami pun masuk di dampingi Ibu Kemisah.

Dari pintu yang terbuka sebagian, kami melihat seorang Ibu tengah duduk membelakangi kami, dengan seseorang yang sedang mengurut pundaknya.

Dialah Ibu Teti, seorang Ibu rumah tangga yang usianya sudah 40 tahun.

Hidup selama bertahun-tahun dengan Umar yang usianya terpaut tiga tahun lebih tua, Teti dan Umar telah di karuniai tiga orang anak dan satu orang cucu.

Dirumah yang alasnya hanya di lapisi semen mentah, mereka hidup dengan penuh keprihatinan.

Di dalam rumah yang terdiri dua buah kamar, ruang tamu dan satu ruangan yang merupakan dapur dan juga kamar mandi, hanya dibatasi oleh kain hordeng (tirai kain) yang terlihat usang, tanpa sebuah pintu yang biasa dijadikan penghalang.

Kami pun duduk berhadap-hadapan.

Membuka pembicaraan, sambil menjelaskan maksud dan tujuan, Ibu Teti mulai membuka mulut menuturkan kondisi keluarganya yang serba kekurangan.

Semenjak dikeluarkannya himbauan untuk tetap dirumah dan menghindari keramaian, Teti mengaku hidupnya yang selama ini penuh keterbatasan semakin mengkhawatirkan.

Tangisnya pun pecah ditengah-tengah cerita yang sedang ia kemukakan.

Sembari sesegukan, Teti terus melanjutkan ceritanya.

Ia mulai dengan cerita tentang kondisi suaminya yang secara fisik sudah tidak memungkinkan lagi untuk bekerja.

Kedua tangan Umar terkena infeksi yang cukup menganggu saat bekerja sebagai buruh serabutan.

Namun, demi menghidupi kelima anggotanya, Umar tetap berjuang dari satu tempat ke tempat yang lainnya.

“Semenjak ada larangan untuk tidak kemana-mana, semua kerjaan di setop dan tidak ada lagi orang yang mau mempekerjakan. Dari situ kami semakin kebingungan,” ujar Teti sambil sesekali mengusap air matanya dengan kain yang ia pegang.

“Kalaupun ada kerjaan, paling penghasilannya tidak lebih dari dua puluh hingga tiga puluh ribu rupiah,” tambahnya.

Sambil Teti melanjutkan ceritanya, dari balik tirai, anak pertamanya terlihat membawa sebuah nampan dan beberapa gelas berisi air putih untuk di hidangkan.

“Ini anak saya yang pertama, tadinya kerja ngebantuin jaga kantin di KP3B. Namun sejak corona dan kondisi kantin sepi, akhirnya terpaksa harus berhenti. Biasanya kalo jaga kantin itu sehari dikasih lima puluh ribu. Namun sejak sepi, anak saya tidak bekerja lagi dan suaminya juga sama nunggu kantin,” jelas Teti.

“Kalau anak saya yang kedua sekarang kerja di bengkel. Kalau ada pelanggan, baru pulang bawa uang. Itupun gak besar. Kalau dapat dua puluh ribu, yang sepuluh ribu untuk saya, sisanya untuk pegangan dia. Itupun kalau ada pelanggan,” lanjutnya, sambil sesekali mengelus dada dan menahan batuk yang sudah lama di deritanya.

Teti pun kemudian menjelaskan perihal sakit yang di deritanya.

Dari beberapa kali periksa di Puskesmas Curug, Teti di diagnosa mengidap penyakit paru.

Sakit yang sudah di deritanya sejak satu tahun ke belakang, diduga akibat terpapar debu dari pabrik yang berada di belakang kampungnya.

“Di belakang ini kan ada pabrik. Kalo angin lagi kenceng, debunya terbang kesini dan mengganggu pernafasan. Kami mau demo juga gak bisa namanya rakyat kecil,” ungkapnya.

“Tadi pagi saja niatnya mau periksa ke dokter. Emang sih pake BPJS, tapi mau berangkat kesananya (Puskesmas) enggak punya ongkos. Kalo ada aja uang sepuluh ribu tadi pagi, mungkin sudah berangkat,” ujar Teti diiringi tangisan yang semakin berat.

Dari penuturan Kemisah yang memberikan informasi mengenai keberadaan keluarga Teti, selama ini meski kampungnya dekat dengan kantor Pemerintah, belum pernah ada satupun bantuan yang masuk ke lingkungannya.

Keberadaan pabrik di sekitar mereka, juga sama sekali tidak memberikan dampak positif terhadap kehidupan masyarakat di sekitarnya.

Dari pantauan tim MBB yang merupakan gabungan dari beberapa organisasi atau komunitas di Banten, di lingkungan Teti dan Kemisah tinggal, terlihat masih ada beberapa masyarakat yang kehidupannya berada di bawah garis kemiskinan.

Untuk itu tim MBB yang terdiri dari Journalist Lecture Community, HMI dan GMNI Cabang Serang, SMGI Raya, NU Backpacker Banten, Jaringan Gusdurian Banten, Ekbis Banten, Bidik Utama, Komunitas Wali, FTBM Cilegon, LPM Extama, dan KMS 30, mengajak seluruh masyarakat Banten untuk ikut berdonasi lewat gerakan sosial yang mengusung tagar #berjamaahlawancorona.

Usai menyerahkan bantuan kepada keluarga Ibu Teti, Rizal Arif Baihaqi selaku Ketua Komunitas Warga Literasi (Wali) mengucapkan terimakasih kepada Ibu Kemisah yang sudah ikut berperan aktif memberikan informasi.

“Apa yang kami lakukan, semata-mata hanya untuk membantu. Dan kami hadir disini hanya sebagai perantara yang berusaha menggugah orang-orang baik diluar sana untuk ikut peduli. Imbas Corona ini, tentunya dirasakan oleh semua pihak tanpa terkecuali. Dan dibalik semua itu, salah satu imbas yang harus menjadi perhatian kita bersama adalah tentang keberlangsungan hidup orang-orang di sekitar kita yang mengandalkan penghasilannya dari kerja sehari-hari. Terimakasih kepada Ibu Kemisah yang sudah ikut berperan aktif dalam memberikan informasi dan kami berharap hal ini bisa diikuti oleh masyarakat lainnya, untuk mulai peduli terhadap keberlangsungan hidup orang-orang di sekitar kita, mulai dari keluarga, saudara, dan juga tetangga. Apabila ada kondisi yang serupa yang perlu dibantu, mari kita sama-sama. Sekecil apapun bantuan yang diberikan, jika bersama-sama dan ikhlas dilaksanakan, Insya Allah memiliki manfaat yang besar bagi mereka yang membutuhkan,” singkat pria yang juga merupakan Koordinator Divisi Ekonomi Kreatif di Journalist Lecture. (Baehaqi)