Antisipasi Penyebaran Virus Corona, MTQ Banten Digelar Tertutup

20794
Walikota Tangerang Selatan,  Airin Rachmi Diani
Walikota Tangerang Selatan, Airin Rachmi Diani

Gelaran Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) XVII Provinsi Banten di Kota Tangerang Selatan pada 23-27 Maret mendatang bakal digelar tertutup atau tanpa penonton. Hal itu dilakukan sebagai bentuk antisipasi penyebaran virus corona atau Covid-19 dengan meminimalisasi kerumunan massa.

Kebijakan tersebut diambil setelah Gubernur Banten Wahidin Halim menggelar rapat koordinasi pelaksanaan MTQ XVII tahun 2020, di Pendopo Gubernur, KP3B, Kecamatan Curug, Kota Serang, Rabu (11/3). Hadir dalam rapat Bupati Tangerang Zaki Iskandar, Walikota Tangerang Selatan Airin Rachmi Diany, perwakilan pemerintah kabupaten/kota hingga pengurus Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ) Banten.

Ketua Harian LPTQ Provinsi Banten Syibli Syarjaya mengatakan, pelaksanaan MTQ ke XVII tingkat Provinsi Banten akan dilakukan penyederhanaan. Lomba akan digelar secara tertutup. Hal itu dilakukan berdasarkan pertimbangan masuknya Covid-19 ke Indonesia sejak 2 Maret lalu.

“Penyelenggaraan disederhanakan tetapi materi lomba tetap sesuai SOP (standar operasional prosedur). Hari pelaksanaan tidak berubah, 23-27 Maret hanya tidak ada pawai taaruf, tidak ada pembukaan di ruang terbuka termasuk penutupan. Termasuk defile kafilah yang biasa dilakukan tidak ada,” ujarnya.

Mantan Rektor UIN Sultan Maulana Hasanudin Banten itu menjelaskan, penyederhanaan juga akan dilakukan pada teknis pelaksanaan lomba. Seluruh cabang lomba akan digelar di ruang tertutup atau tanpa penonton. Hanya peserta, official kafilah dan dewan hakim serta perangkat lomba yang boleh berada di ruangan atau maksimal sebanyak 50 orang.

“Di ruang tertutup, jadi pengunjungnya juga tidak banyak. (Bisa diartikan tanpa penonton) kemungkinan begitu. Lokasi lomba tetap di 14 venue tapi kita minta di ruang tertutup. Tadi itu ada yang di sekolah, hotel. Nanti mereka (Pemkot Tangerang Selatan-red) akan rapat,” katanya.

Ia menegaskan, walau digelar secara tertutup, namun sistem penilaian lomba tak berubah. Pihaknya tetap akan menerapkan standar yang sama andai MTQ digelar secara terbuka. “Untuk SOP dewan hakim dan kriteria dan lainnya kita pegang. Tidak boleh kurang karena itu penilaian, penyederhanaan itu hanya dari sisi pelaksanaan,” ungkapnya.

Syibli memaparkan, dalam MTQ ke XVII ada sembilan cabang lomba dengan sekitar 20 golongan lomba. Kesembilan cabang itu terdiri atas tilawah, tahfid, tafsir, syarhil Quran, fahmil Quran, menulis makalah Al Quran, qiratul kutub, kaligrafi, mata lomba baru hadist.“Cabang baru itu hadits. Hadits yang 500 tanpa rawi dan sanad, lalu ada 100 hadits yang menggunakan rawi dan sanad,” tuturnya.

Dengan sembilan cabang yang dipertandingkan, kata dia, maka setiap kabupaten/kota bisa mengirimkan 56 peserta lomba sehingga jika terisi semua akan ada 512 peserta. Untuk saat ini panitia telah menerima 511 peserta atau kurang satu dari kuota maksimal peserta.“Berarti ada satu kabupaten/kota yang kurang satu (mengirimkan peserta) sebab semuanya 512. Sementara dewan hakim yang akan menilai 172 orang kemudian ditambah panitera, sesi musabaqah dengan pembawa acara itu jadi 260 sekian,” ujarnya.

Walikota Tangerang Selatan Airin Rachmi Diany mengatakan, penyederhanaan penyelenggaraan MTQ XVII tingkat Provinsi Banten merupakan respons dan antisipasi terhadap Covid-19. Apa yang diputuskan kemarin sudah dilakukan dengan sejumlah pertimbangan, termasuk berkonsultasi ke Kementerian Kesehatan (Kemenkes).“Kami akan menyederhanakan kegiatan MTQ tingkat Provinsi Banten. Kami lebih pada pencegahan saja sebetulnya, menghindari kerumuman sesuai saran dari pemerintah pusat,” katanya.

Airin menuturkan, melalui penyederhanaan tersebut, ada sejumlah kegiatan yang akan diubah teknis pelaksanaannya. “Jadi pembukaan di kantor walikota saja. Untuk 14 venue yang awalnya kami siapkan di masjid, di ruang-ruang terbuka sebagai syiar agama sehingga masyarakat bisa hadir dan menyaksikan, itu ditiadakan. (Pelaksanaannya) di ruangan saja, sama halnya seperti misalnya LPTQ melakukan seleksi terhadap peserta dari kabupaten/kota,” ungkapnya.

Meski begitu, ia memastikan para peserta maupun dewan hakim tetap nyaman dalam melaksanakan kegiatan MTQ tersebut. Pihaknya juga menyiapkan petugas kesehatan pada pelaksanaan MTQ. Menurutnya, hal tersebut sudah sesuai SOP yang berlaku.

“Kami sedang mencari venue, yang intinya memudahkan dewan hakim, kemudian juga peserta dari kabupaten/kota. Kami tetap berusaha menjadi tuan rumah yang baik. Protap (prosedur tetap) kami jalankan. Kafilah kan butuh kesiapan mental, fisik dan juga spiritual untuk mengikuti seleksi ini. Ada atau tidak ada corona harus siap,” tegasnya