Erick Thohir Beberkan Kondisi Krakatau Steel yang Berdarah-darah

819
images (38)
                         Menteri BUMN Erick Thohir

Jakarta -Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir membeberkan kondisi keuangan PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS) yang berdarah-darah. Bahkan utang perusahaan disebut Rp 40 triliun.

Saat menjelaskan soal utang sebesar itu, Erick menyinggung banyaknya anak perusahaan Krakatau Steel, yaitu mencapai 60 unit. Hal itu dia sampaikan dalam rapat kerja (raker) dengan Komisi VI DPR RI, kemarin.”

Contoh Krakatau Steel, dengan utang hampir Rp 40 triliun, Krakatau Steel punya anak perusahaan yang berjumlah 60. Kalau bapak ibu tanya saya, bisa nggak me-review Krakatau Steel dalam waktu seminggu, saya angkat tangan, karena jumlahnya 60,” kata dia di Ruang Rapat Komisi VI, Gedung DPR RI, Jakarta, Senin (2/12/2019).

Selain memiliki utang yang menggunung dan anak usaha yang begitu banyak, kinerja keuangan Krakatau Steel terbilang mengecewakan. Perusahaan bahkan mencatatkan kerugian selama 7 tahun berturut-turut.
Menurut catatan detikcom, KRAS terakhir kali mengantongi laba sejak 2011 yang mencapai US$ 151 juta. Setelah itu perusahaan terus mengalami kerugian.

Berikut data kerugian KRAS sejak 2012 hingga 2018.
– 2012 rugi US$ 20 juta
– 2013 rugi US$ 14 juta
– 2014 rugi US$ 147 juta
– 2015 rugi US$ 320 juta
– 2016 rugi US$ 172 juta
– 2017 rugi US$ 82 juta
– 2018 rugi US$ 75 juta

Sebelumnya, Direktur Utama KRAS Silmy Karim pernah mengakui tentang kinerja keuangan. Namun pihaknya tengah memperbaiki fundamental perusahaan dan perbaikan industri baja tanah air. Selama ini industri baja nasional terdampak dari serangan produk baja impor.

Selama ini baja impor yang masuk mengakali nomor Harmonized System (HS) dari carbon steelmen menjadi jenis alloy steel. Sehingga produk tersebut akan mendapatkan lebih rendah dibanding jenis produk baja lainnya. Hal itu lantaran adanya kebijakan Permendag 22/2018.

“Industri baja dalam tiga tahun terakhir ini terpukul. Itu karena Permendag 22 itu bebas cukai,” ujarnya dalam acara Paparan Publik Krakatau Steel di Gedung BEI, Jakarta, Jumat (4/1/2018).