Kekeringan di Banten Makin Parah

58

BIDIK, SERANG – Puncak kekeringan terparah sesuai prediksi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) terjadi di Agustus ini. Siklusnya, akan tetap berlangsung hingga akhir 2019.

Kepala Sub Bidang Pelayanan Jasa BMKG Klas II Tangsel Darman Mardanis menjelaskan hasil monitoring BMKG, suhu muka laut di wilayah Samudera Hindia sebelah barat Sumatera dan perairan Indonesia di bagian selatan ekuator lebih dingin dari suhu normalnya yaitu 26-27 derajat celcius.

Akibatnya proses penguapan air laut lebih sulit terjadi sehingga pembentukan awan-awan hujan signifikan berkurang. “Enam bulan ke depan situasinya curah hujan yang rendah sehingga musim kemarau diprediksi akan berlangsung hingga awal bulan Oktober sampai bulan Desember 2019,” katanya.

Ia menyatakan, sejak Oktober 2018, sebelum memasuki musim kemarau 2019 BMKG telah memprediksi terjadinya El Nino lemah yang mengakibatkan musim kemarau menjadi lebih kering. “Bulan Agustus yang merupakan puncak musim kemarau 2019 untuk wilayah Banten, BMKG memantau saat ini El Nino lemah sudah berakhir dan kondisi netral ini diprediksi akan berlangsung hingga akhir tahun. Puncak musim hujan diprediksi pada Februari 2020,” tandasnya

Darman menambahkan, analisis perkiraan peluang curah hujan pada dasarian minggu ketiga Agustus dan dasarian minggu pertama September menunjukkan bahwa beberapa daerah diperkirakan akan mengalami curah hujan sangat rendah. Lalu, sebagian besar wilayah Banten dan DKI Jakarta mengalami deret hari kering lebih dari 20 hari bahkan 60 hari. “Analisis tersebut memenuhi syarat untuk dikeluarkan peringatan dini, diperlukan kewaspadaan terkait ancaman bencana kekeringan,” ucapnya

Ia menambahkan, kekeringan akan berdampak sektor pertanian yang menggunakan sistem tadah hujan di wilayah Banten dan DKI Jakarta. Lalu, adanya pengurangan ketersedian air tanah sehingga menyebabkan kelangkaan air bersih serta meningkatnya polusi udara. Untuk wilayah Banten, sambungnya, terdiri dari tiga status mulai waspada, siaga, dan awas.

Di wilayah Kabupaten Serang, ada enam kecamatan yang mengalami krisis air bersih. Yakni, Kecamatan Pontang, Tirtayasa, Kramatwatu, Carenang, Lebakwangi, dan Kecamatan Petir. “Berdasarkan laporan kami, ada 36 desa di enam kecamatan yang krisis air bersih,” kata Sekretaris BPBD Kabupaten Serang Babay Ahlan.

Babay mengatakan, sejak awal Agustus pihaknya sudah menyalurkan 150 ribu liter air bersih kepada 36 desa yang krisis air bersih. Permohonan bantuan air bersih terus bertambah akan tetapi terkendala jumlah mobil pengangkut. “Mobil untuk mengangkut air bersih di kita cuma ada dua, masing-masing berkapasitas 5.000 liter, idealnya kita butuh lima mobil,” katanya.

Beda halnya dengan data yang dimiliki oleh PDAM Tirta Al Bantani Kabupaten Serang. Hingga Agustus ini, sudah delapan kecamatan di Kabupaten Serang yang mengajukan permintaan air bersih. Permintaan air bersih paling banyak dari wilayah Serang Timur dan Serang Utara.

Kepala Bagian Umum PDAM Tirta Al Bantani Kabupaten Serang Arif Setiawan mengatakan, delapan kecamatan yang sudah disalurkan bantuan air bersih yakni Kecamatan Cikande, Kibin, Kragilan, Ciruas, Pontang, Tirayasa, Kramatwatu, dan Kecamatan Bojonegara. Bantuan air bersih yang disalurkan setiap harinya mencapai 20 tangki. “Sampai sekarang kita sudah menyalurkan 1.500 tangki, masing-masing tangki berkapasitas 4.000 hingga 5.000 liter,” katanya.

Sementara itu, Branch Manager Aksi Cepat Tanggap (ACT) Cabang Serang Aat Soihat mengatakan, Provinsi Banten menjadi salah satu daerah yang rawan terjadi kekeringan. Menurut dia, kekeringan dapat melumpuhkan segala aspek kehidupan masyarakat. Mulai dari ekonomi, sosial, hingga kesehatan masyarakat. “Kekurangan air bersih juga akan berdampak pada stunting hingga gizi buruk yang berdampak pada kematian,” katanya pada konferensi pers di kantor ACT Cabang Serang, Kota Serang.

Aat mengatakan, selain berdampak pada manusia, kekeringan juga bisa berdampak pada makhluk hidup lain yakni tumbuhan dan hewan. Terlebih lagi, pada tumbuhan padi yang menjadi mata pencaharian sebagian warga. “Gagal panen menjadi ancaman bagi wilayah-wilayah pertanian tadah hujan,” ujarnya.

Kemarin, ACT bersama BPBD Kabupaten Serang memberangkatkan sembilan armada watertank untuk 10 titik kekeringan. Bantuan air bersih itu disalurkan ke wilayah Kota Serang, Kabupaten Serang, Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Lebak, dan Kota Cilegon. “Berikutnya kami juga bersama BPBD akan memberangkatkan 11 armada watertank,” katanya.

Menurut Aat, persoalan kekeringan harus menjadi persoalan bersama. Baik itu pemerintah, perusahaan, lembaga sosial, hingga masyarakat perorangan. “Untuk jangka panjang, kami akan membangun sumur dalam untuk setiap titik rawan kekeringan, supaya dampak kekeringan dapat diminimalkan,” ujarnya. (Ron)