Investasi Tetap Dilanjutkan, Lotte Sudah Kucurkan Rp1,4 Triliun

206

Screenshot_2019-07-20-01-59-28-261_com.android.chrome

BIDIK CILEGON – Rencana perusahaan akan menarik investasi tersebut lantaran sejumlah reaksi negatif dari beberapa pihak, menurut Kim, hal itu diharapkan tidak terjadi. Selain telah mengeluarkan dana, Kim menilai, investasi tersebut baik untuk perekonomian di Kota Cilegon.

Kim berharap investasi yang dilakukan perusahaannya tidak menghadapi kendala apa pun dan cepat selesai.

“Pengennya kita cepet, investasi cepat terealisasi, kita juga ingin penyelesaian secara damai, tidak ada yang kecewa. Itu aja prinsipnya,” kata Kim berharap.

Hal senada diungkapkan Direktur Manufactur PT Lotte Chemical  Indonesia Tittan Jojo Hardijanto. Kata Jojo, perusahaan telah mengambil keputusan untuk tetap melanjutkan investasi dengan mengakomodasi semua aspirasi yang masuk berkaitan dengan proyek itu.  “Kita upayakan win win solution,” tuturnya.

Screenshot_2019-07-20-01-58-44-039_com.android.chrome

Ancaman untuk menarik investasi dari Kota Cilegon muncul akibat sejumlah kegiatan megaproyek ramai menjadi perbincangan publik. Antara lain aktivitas pembuangan lumpur lokasi proyek ke sejumlah lokasi, seperti objek wisata Rawa Arum dan lokasi pembangunan Pelabuhan Warnasari.

Presiden Direktur PT LCI Kim Yong Ho menjelaskan, pihaknya menargetkan pembangunan pabrik selesai pada 2023. Kim mengklaim pihaknya telah mengantongi hampir seluruh dokumen perizinan pembangunan pabrik, dari izin analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal) hingga izin lokasi.

Saat ini PT Lotte Chemical Indonesia (LCI) sudah mengucurkan dana sebesar 100 ribu dolar Amerika Serikat atau sekitar Rp1,4 triliun untuk membangun pabrik kimia di Kecamatan Grogol, Kota Cilegon. Dana investasi sebesar itu baru untuk pembebasan lahan dan pematangan lahan yang saat ini sedang berjalan.

Sementara total nilai investasi perusahaan asal Korea Selatan itu mencapai 3,5 miliar dolar Amerika Serikat atau kurang lebih setara Rp 50 triliun.

Diketahui, peletakan batu pertama pembangunan pabrik dilakukan Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto pada 17 Desember 2018 yang dihadiri oleh Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Trikasih Lembong dan Walikota Cilegon Edi Ariadi.

Pabrik yang rencananya dibangun di atas lahan seluas kurang lebih 100 hektare tersebut memiliki kapasitas produksi naphta cracker sebanyak 2 juta ton per tahun. Bahan itu kemudian diolah menjadi 1 juta ton ethylene, 520 ribu ton propylene, 400 ribu ton polypropylene, dan sejumlah produk lain.

Untuk perizinan yang belum dikantongi pihaknya adalah perizinan pengerukan pasir laut. “Izin ini sedang kita urus, semua prosedur pasti kita tempuh,” tuturnya, Kamis (18/7).

Presiden Direktur PT LCI Kim Yong Ho menjelaskan, pihaknya menargetkan pembangunan pabrik selesai pada 2023. Kim mengklaim pihaknya telah mengantongi hampir seluruh dokumen perizinan pembangunan pabrik, dari izin analisis mengenai dampak lingkungan (amdal) hinga izin lokasi.

Bahkan pihak PT LCI secara resmi telah membangun kerjasama dengan beberapa aktifis lingkungan seperti LSM Rekonvasi Bumi yang telah mengadakan penanaman bibit pohon mangrove sebanyak 15 ribu batang yang telah dilakukan pada Kamis,  (18/7)  kemarin dan dihadiri oleh Presiden Direktur PT LCI,  Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Banten, Dinas Lingkungan hidup Cilegon (DLH) , LSM Rekonvasi Bumi,  Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kota Cilegon, BAPPL STP Serang.

(***/Red)