Ratusan Rumah di Kabupaten Lebak Rusak Karena Mengalami Pergeseran Tanah

260
   
Salah satu kondisi rumah warga yang terdampak pergeseran tanah di Kampung Jampang Kuning Desa Sudamanik, Kecamatan Cimarga, Kabupaten Lebak, Banten. (haryono)Salah satu kondisi rumah warga yang terdampak pergeseran tanah di Kampung Jampang Kuning Desa Sudamanik, Kecamatan Cimarga, Kabupaten Lebak, Banten. (har)

LEBAK – Tanah di Kampung Jampang Kuning dan Jampang Neglasari, Desa Sudamanik, Kecamatan Cimarga, Kabupate Lebak, mengalami pergeseran. Kondisi ini mengakibatkan 104 rumah rusak, dan dua diantaranya rusak total.

Aktifitas pergeseran tanah masih terjadi di lokasi tersebut, dan menyebabkan retakan baru dan amblasnya tanah di kampung tersebut. Ubay, Ketua RT, pergeseran tanah yang terus terjadi menyebakan timbulnya retakan baru dan amblasnya tanah di sekitar kampung.

“Setiap hari ada saja retakan baru dan amblasnya tanah di sini,” kata Ubay wartawan, Senin (11/2/2019)

Retakan baru terlihat memanjang dan terus mengalami pelebaran setiap harinya. Timbulnya retakan baru ini dibarengi dengan amblasnya tanah. “Kalau ada retakan tanah pasti ada tanah yang amblas juga,” ujar Ubay.

Sementara itu, Sunah, salah seorang warga mengataka ia merasa was-was melihat kondisi tempat tinggal mereka yang sudah terkepung retakan tanah dan amblasnya tanah akibat pergeseran tanah. “Kita hanya bisa pasrah aja walapun setiap hari was-was dan khawatir,” ujarnya.

Sementara itu Ikah (53), warga Kampung Jampang Kuning, mengungkapkan dirinya bersama warga lainnya merasa takut bila terjadi hujan. Sebab, di saat hujan inilah pergeseran tanah itu terjadi.

“Pergeseran tanah tersebut berasa jika saat hujan, makanya kalau hujan tiba kita mengungsi ke rumah tetangga yang lebih aman,” ungkapnya.

Ikah berharap pemerintah bisa memantau dan memberikan bantuan kepada warga Kampung Jampang Kuning dan Neglasari yang terkena dampak pergeseran tanah. “Kalau mau direlokasikan ya kami mah siap aja asal tempatnya jangan jauh-jauh dari Desa Sudamanik,” harapnya.

Ditambahkannya, khawatir susulan bencana pergeseran tanah akan terjadi lagi, hingga kini warga masih merasa ketakutan. Bahkan, selang beberapa jam setelah kejadian, banyak warga yang tidak bisa tidur pulas di kediamannya.

“Kami khawatir tanah di kampung kami masih labil, sehingga bencana alam pergeseran tanah terjadi lagi,” pungkasnya. (har/bb)