Kerap Dilanda Banjir, Warga Pandeglang dan Serang Minta Perhatian Pemerintah

139

PANDEGLANG – Hujan lebat yang mengguyur wilayah Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang, Kecamatan Padarincang dan Baros Kabupaten Serang sejak Senin (31/12/2018) siang membuat beberapa daerah banjir. Pada malam pergantian tahun, beberapa wilayah di Kecamatan Labuan tampak terendam.

Bencana banjir yang melanda dua kabupaten ini merupakan peristiwa yang sering terjadi ketika hujan deras datang. Banyak warga yang mengeluhkan datangnya banjir, sebab daerah seperti Kecamatan Labuan dan Padarincang merupakan daerah potensi langganan banjir.

Warga terdampak banjir berharap pemerintah daerah serius menangani persoalan banjir yang melanda sejumlah wilayah di Provinsi Banten.

Sofwan Rizki warga Kampung Sukamaju, Desa Citasuk, Kecamatan Padarincang, Kabupaten Serang, menuturkan bahwa curah hujan yang terus menerus terjadi di wilayah Padarincang mengakibatkan banjir.

Volume air hujan dan luapan air sungai Cikalumpang yang terus bertambah masuk ke dalam rumah-rumah warga.

Sekitar 400 jiwa warga Cikalumpang mengungsi di bangunan yang lebih tinggi ketika banjir besar memasuki pemukiman warga. “Ini sudah sering terjadi ketika hujan deras tiba, dan saya harap pemerintah harus cepat respon untuk mencari solusi agar warga tidak lagi terkena banjir,” ujarnya.

Sementara di Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang sebagian warga sudah mengungsi sebelum terjadi banjir. Saat ini proses evakuasi sedang berlangsung dan warga yang diselamatkan sementara ditempatkan di Polsek Labuan.

Solihin, warga Desa Labuan, saat dimintai tanggapannya oleh awak media, di tempat evakuasi menyatakan bahwa hujan yang turun seharian, membuat jalan dan rumahnya tergenang air, sehingga meminta bantuan kepada polisi untuk dievakuasi, karena khawatir terhadap volume air yang terus meningkat.

“Syukur Alhamdulilah, kami telah dibantu oleh bapak-bapak polisi, sehingga kami bisa aman di lokasi sementara ini, sambil menunggu air surut,” ujarnya.

Yati, salah satu warga Kampung Ekor, Desa Kecamatan Labuan, memilih bertahan di rumah, meski rumahnya terendam banjir setinggi hampir 1 meter. Menurutnya banjir kali ini lebih parah dibanding banjir  yang terjadi pada Rabu (26/12/2018) lalu.

“Menyelamatkan barang–barang di rumah, dari semenjak tsunami juga saya tidak ngungsi, hanya memindahkan barang ke atas, padahal baru dirapihin pas banjir pertama, sekarang banjir lagi,” kata Yati. (har/bb)