Dilanda Banjir Warga di Desa Bulagor Pandeglang Luput dari Bantuan Relawan

314
Sepekan Banjir, Ratusan Warga di Pandeglang Luput dari Bantuan MakananWarga Desa Bulagor, Kecamatan Pagelaran, Pandeglang hanya bisa beraktiviats di rumah akibat banjir. Mereka juga belum mendapat bantuan makanan.

PANDEGLANG, – Ratusan warga Desa Bulagor, Kecamatan Pagelaran, Pandeglang, Banten yang menjadi korban tsunami dan banjir terpaksa berdiam diri di rumah. Mereka belum tersentuh bantuan dari pihak mana pun sejak bencana tsunami dan banjir melanda wilayah itu.

Mereka luput dari jangkauan para relawan dan bantuan logistik lainnya karena penanganan korban bencana hanya fokus di Kecamatan Labuan, Pandeglang.

Pantauan Wartawan, hingga Selasa (2/1/2019), ketinggian air di desa itu masih mencapai 70 centimeter hingga satu meter. Banjir disebabkan tingginya intensitas curah hujan ditambah lagi adanya luapan Kali Cilemer dan Kali Cisata.

Diperkirakan permukaan air akan terus meningkat akibat tingginya curah hujan dari hulu sungai yakni, di wilayah Pandeglang. Warga khawatir banjir akan kembali meninggi jika cuaca masih buruk seperti ini.

Banjir yang melanda sejumlah desa di Pandeglang ini sudah berlangsung sejak Rabu (26/12/2018) atau empat hari setelah tsunami Selat Sunda. Selain Desa Bulagor, banjir setinggi satu meter juga menerjang Kubangkampil, Kecamatan Sukaresmi dan Desa Teluk, Kecamatan Labuan.

Kepala Desa Bulagor, Zainudin mengatakan, banjir setinggi 70 cm-1 meter ini menggenangi tiga kampung yakni, Sukaresmi, Pematang dan Dusun 1. “Dari tiga kampung itu total ada 150 kepala keluarga (KK) yang terdampak banjir,” katanya.


Menurut Zainudin, akibat banjir tersebut warga tidak bisa beraktivitas karena hampir semua akses jalan terendam banjir. Kondisi itu diperparah dengan belum adanya bantuan baik makanan maupun obat-obatan dari pihak terkait.

“Perahu karet untuk menyalurkan bantuan tidak ada, sehingga banyak warga yang belum dapat bantuan. Khususnya bayi karena membutuhkan makanan dan popok,” ujarnya.

Zainudin menambahkan, saat ini posko banjir masih diprioritaskan di Kecamatan Labuan yang juga terdampak tsunami Selat Sunda. Padahal, wilayah yang terdampak banjir sudah meluas hingga lima kecamatan.

Dia berharap pemerintah daerah maupun pihak lainnya segera ke lokasi untuk menyalurkan bantuan makanan dan logistik lainnya. Warga juga ingin dievakuasi karena dalam sepekan terakhir sudah dua kali desa mereka terendam banjir. “Warga berharap kepada pihak terkait untuk segera memberikan bantuan mengingat curah hujan masih cukup tinggi,” tandasnya.