Masjid Agung Kota Cilegon Diharapkan Dapat  di Kelola Secara Profesional

220px-Masjid_Agung_Cilegon

Berdirinya Masjid Agung di kota Cilegon selain sebagai moment tonggak sejarah peradaban umat Islam juga sebagai pusat kegiatan dan kebudayaan Islam di kota Cilegon dan akan banyak dirasakan sisi positifnya jika dapat dikelola secara profesional.

Hal tersebut diungkapkan oleh Bayu Panatagama selaku inisiator dan penggiat keagamaan Islam di kota Cilegon.

IMG_20180326_225531

Dikatakannya, Masjid zaman now alias masjid zaman sekarang mesti dikelola dengan ilmu dan keterampilan manajemen. Bila tidak, masjid akan sulit berkembang dan ditinggalkan jamaah.

“Masjid merupakan masa depan kita, masjid rumah bagi orang yang bertakwa. Allah Subhanahu Wa Ta’ala pun menjamin bagi orang yang menjadikan masjid sebagai rumahnya, akan dipercepat jalannya di jembatan menuju surga-Nya. Inilah masjid, rumah Allah, inilah yang mestinya yang seharusnya kita giatkan, rugi besar kalau masjid tidak bisa kita jadikan sentuhan bagi permasalahan diri dan ummat kita”ungkapnya.

Masih dalam satu ingatan dan tarikan nafas, lanjut Bayu, saat itu tanggal 2 Februari 2006 dimulainya pembangunan Masjid Agung Nurul Ikhlas Cilegon dengan dipimpin oleh Bapak H. Tb. Aat Syafa’at (Almarhum), masa pembangunan dilaksanakan selama hampir tiga tahun, tanggal 27 Maret 2009 Peresmian masjid ini dilakukan oleh Agama RI H. Maftuh Basuni (saat itu) dan hingga kini menjadi kebanggaan umat muslim Cilegon.

“Alangkah bijaknya jika semangat membangun sarana ibadah (segi idarah /pembangunan) fisik masjid yang telah ikhtiarkan dengan segenap pengorbanan, materi, waktu, pemikiran dan tenaga, juga ditindaklanjuti dengan semangat memantapan sisi imarah (pemakmurannya) di samping juga sisi riayah-nya (perawatan)”urainya dalam status yang diunggah di akun Facebooknya.

Untuk maksud tersebut di atas, lanjutnya, hanya dapat dilakukan oleh Nazir yang memahami Manajemen (idarah) sebab masjid pada prinsipnya meliputi dua bidang besar, yakni Idarah binail maadiy dan Idarah binail ruhiyyi.

“Idarah binail maadiy adalah manajemen secara fisik yang meliputi : kepengurusan, pengaturan pembangunan, penjagaan kehormatan, kebersihan, ketertiban, keindahan, ketentraman, keamanan, penataan keuangan, administrasi dan pemeliharaan daya tarik masjid bagi jamaah. Sementara, idarah binail ruhiyyi mencakup pengaturan tentang pelaksanaan fungsi masjid sebagai wadah pembinaan dan pembangunan umat lewat pendidikan, pengajaran (majelis taklim) dan kebudayaan Islam seperti dicontohkan oleh Rasulullah SAW”urainya.

Diapun menerangkan, masih banyak permasalahan manajemen masjid dalam rangka mengembalikan fungsi masjid sebagai pusat ibadah dan kebudayaan Islam serta peradaban Islam. Permasalahan manajemen tersebut sejatinya berpusat pada bagaimana manusia (takmir masjid) menjalankan semua proses manajemen masjid dengan profesional. (KD)