Takut Digauli Ayah Tirinya, ABG Ini Jadi Gelandangan di Banten

283

Suami bejat

TAK bisa dipungkiri, kini banyak ayah tiri jadi “predator” dalam rumahtangga. Sudah mau emaknya, masih ngincer anaknya. Contoh ABG Ida, 15, dari Lampung. Dia sampai kabur dari Lampung dan ngegelandang di Banten, karena capek dijadikan budak seks oleh Rasmin, 43, suami keduanya sang ibu.

Maunya orang berumahtangga itu selalu hidup bahagia hingga kakek nenek, ketika giginya tinggal dua seperti burung kakak tua. Tapi tak semua bisa kesampaian. Ada yang baru berumahtangga beberapa tahun, sudah bercerai. Walhasil anak akan jadi korban. Ketika ibu menikah lagi, tak ada jaminan bahwa suami kedua lebih baik mentalnya ketimbang suami pertama. Banyak juga yang alim, tapi tak sedikit yang dzolim.

Ida warga Bandar Lampung, adalah salah satu ABG yang menderita akibat perceraian orangtuanya. Sang ibu, Ny. Murtini, 40, ketika menikah lagi dengan duda Rasmin, ternyata mentalnya berkwalitas rendah seperti beras Raskin. Coba bayangkan kelakuan lelaki ini. Sudah mau sama emaknya, tapi doyan juga pada anak tirinya. Kalau pelawak Asmuni masih hidup, pasti akan bilang, “Ini ayah tiri cap apa?”

Sekitar 10 tahun lalu Murtini bercerai dengan suami perdananya. Anak semata wayangnya, Ida, memilih ikut emak ketimbang dibawa bapak. Karena merasa masih muda dan enerjik, Murtini pun masih membutuhkan suami penerus. Pilihannya jatuh pada Rasmin, yang tutur katanya santun, pintar ngomong, dan seiman. Maka ketika Rasmin mendeklarasikan cintanya, Murtini pun menerima dengan senang hati.

Murtini kini tak kesepian lagi. Aspirasi urusan atas dan bawah, semuanya dijamin oleh Rasmin. Beberapa anak juga lahir sebagai hasil kerjasama nirlaba selama beberapa tahun itu. Secara kasat mata Murtini sangat bahagia dan bangga pada suami pengganti itu. Apa lagi dalam keseharian Rasmin juga nampak sayang pada anak tirinya tersebut.

Tapi ternyata, sayangnya Rasmin pada Ida belakangan, ada motif politik di dalamnya. Diam-diam dia punya hasrat juga pada anak tirinya itu. Dalam usia 15 tahun sekarang, Ida memang bak pelem gedong yang kecil buahnya tapi manis rasanya. Tebal dagingnya dan kecil biji peloknya. Sekali-sekali Rasmin ingin pula mengunduhnya.

Ketika situsi di rumah begitu aman terkendali, diam-diam dia merayu Ida bahwa nanti akan dapat fasilitas plus. Tak hanya dibiayai sekolahnya, tapi juga dibelikan baju baru dan HP canggih biar bisa nge-WA 24 jam nonstop. Tapi kalau menolak ajakan mesum itu, akan dipulangkan ke rumah neneknya di Banten sana.

Tentu saja Ida ketakutan jika tak bisa melanjutkan sekolahnya di SMA, dan dipulangkan ke rumah nenek, sama saja putus sekolah. Akhirnya dia terpaksa pasrah saja ketika digarap ayah tirinya pertama kali. Maka ayah tiri berhati iblis itu berhasil memanjakan syahwatnya. “Awas, kamu jangan cerita sama emakmu, ya.” Ancam Rasmin yang kwalitasnya seperti beras Raskin itu.

Janji “kampanye” Rasmin memang dipenuhi. Tapi sejak itu dia jadi seperti dapat legitimasi untuk selalu menodai anak tirinya. Dan Ida tak bisa menolak. Nah, ketika Rasmin hendak menodai anak tiri yang ke empat kalinya, eh….saat “pemanasan” kepergok ibu kandungnya. Takut kalau ribut diketahui tetangga, Murtini memilih mendeportasi Ida ke rumah nenek di Banten.

Ternyata di Banten Ida tidak betah, sedangkan akan kembali ke Lampung juga tak berani. Akhirnya dia hidup menggeladang, sampai kemudian ditolong warga dan diserahkan polisi. Kepada polisi Ida pun mengakui segala penyebab kabur-kaburan itu. Gadis ABG itu dipulangkap ke Lampung dan si Raskin pun ditangkap tanpa perlawanan. Dalam pemeriksaan dia mengakui bahwa memang beberapa kali menggauli anak tirinya. “Tapi baru 3 kali kok Pak, yang ke-4 baru pemanasan sudah ketahuan.” Aku Rasmi jujur.

Anak tiri dipanasi, memangnya sayur lodeh, dipanasi tambah enak? (JPNN/Gunarso TS)