Sudah Tak Masuk RTS, Amerah Mengidap Penyakit Aneh Di Kelopak Matanya

297
Amerah Seorang Janda Yang Mengidap Penyakit Aneh Di Kelopak Matanya. (Foto, BidikBanten)
Amerah 65 Tahun Seorang Janda Yang Mengidap Penyakit Aneh Di Kelopak Matanya. (Foto, BidikBanten)

CILEGON, (BidikBanten) – Amerah (65) seorang Janda warga RT/RW 01/02 Lingkungan Tanjung Putih, Kelurahan Gedong Dalam, Kecamatan Jombang, Kota Cilegon, hidup sebatang kara dengan belas kasian orang lain. Sudah tiga tahun menderita penyakit aneh pada kelopak matanya.

Saat di temui di kediamanya Amerah yang sedang terbaring  di tempat tidurnya diruangan kamar ukuran 2×3 tanpa di dampingi oleh siapapun. Selasa (29/11/2016), Amerah mengaku, penyakitnya ini berawal tiga tahun lalu ketika ada bintik merah yang berada di dekat kelopak matanya. Karena gatel bintik merah itu digaruknya. Dan  lama kelamaan bintik merah itu makin meluas sehingga membuat mata sebelah kirinya menjadi tidak melihat

“Awalnya gatel di kelepak mata bagian kiri, karena gatel saya terus garuk dan lama kelamaan gatel tersebut menjadi lebar dan akhirnya mata sebelah kiri tidak bisa melihat,” ujar amerah sambal berbaring.

Karena ketiadaan biaya, lanjut Amerah, penyakit yang dideritanya malah semakin parah dan hanya bisa mengeluh. Saat ini Amerah untuk makan saja harus di bantu oleh orang yang iba melihat dirinya. “Boro-boro untuk biaya berobat, untuk makan aja harus menunggu bantuan orang lain,” kata nenek sambil berlinang air mata.

Sarmunah, seoran keponakan nenek amerah mengaku, sudah berupaya membantu bibinya tersebut dengan berobat ke orang pintar dan membawanya ke rumah sakit. Namun sampai saat ini penyakit bibinya tersebut tak kunjung sembuh. “Saya mah pasrah saja yang penting saya sudah berupaya membawa bibi saya ke orang pinter dan dokter bahkan sudah ratusan biaya yang sudah di keluarkan tapi sudah berjalan tiga tahun belum ada perkembangan. Apalagi tidak punya kartu BPJS dan tidak tercatat sebagai rumah tangga sasaran (RTS),” ujarnya.

Rasmunah berharap, bibinya ini cepat sembuh, tapi apa lah daya karena keterbatasan biaya terpaksa bibinya tersebut tergolek di tempat tidurnya. “Bibi saya ini seorang janda dan tidak punya anak, makanya dalam kehidupan sehari-hari bibinya, saya yang mengurusnya, karena suami saya hanya seorang buruh jadi untuk biaya berobat saya tidak punya, kadang juga ada orang yang memberi baru saya belikan obat di apotik. karena kalau obat dari Puskesmas rasa gatelnya masih terasa terpaksa saya belikan obat di apotik. Dan berharap adanya dermawan memberikan bantuan kepada bibinya,” tutupnya. (Mg01)