Petani Pandeglang Mampu Membayar Zakat

200

petani madu

PANDEGLANG, (PR).- Dulu diberi sekarang bisa berbagi. Inilah kisah kemanfaatan zakat yang dirasakan para petani madu asal Desa Ujungjaya, Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang, Banten. Sempat menjadi penerima manfaat zakat, kini mereka menjadi muzaki, yakni orang yang wajib berzakat.

Kisah ini diungkap Eman Sulaiman, salah satu petani madu Desa Ujungjaya saat menunaikan zakat penghasilan di kantor Dompet Dhuafa di bilangan Ciputat, Tangerang Selatan pada Rabu (30/3). Eman merupakan Ketua Koperasi Hanjuang, koperasi yang menaungi para petani madu di Desa Ujungjaya.

“Alhamdulillah, dulu kami diberi (bantuan) Dompet Dhuafa dalam pendampingan pemberdayaan madu hutan, setelah diberikan bantuan produksi madu semakin maju dan omzet terus meningkat. Berzakat menjadi bentuk rasa syukur kami atas rezeki yang kami terima,” ujar Eman.

Kang Eman, demikian sapaan akrabnya ini menuturkan, zakat penghasilan yang ditunaikan di Dompet Dhuafa merupakan bentuk kewajiban sebagai muslim dan wujud rasa syukur atas penjualan madu sebanyak 11.500 madu, yang omzet keuntungannya mencapai Rp 81 juta. Bersama anggota koperasi berjumlah 27 anggota, Kang Eman menyisihkan rezeki untuk berzakat yang terkumpul sejak November 2015 hingga Maret tahun ini.

Sejak tahun 2014 Koperasi Hanjuang telah bermitra dengan Dompet Dhuafa melalui Perhimpunan Hanjuang Mahardika Nusantara (PHMN). Dompet Dhuafa menghadirkan program pemberdayaan untuk para petani madu di Desa Ujung Jaya, Taman Nasional Ujung Kulon. Banyak kemajuan pesat yang dirasakan para petani madu yang menjadi penerima manfaat Dompet Dhuafa ini. Mulai dari fasilitas produksi yang semakin lengkap, dan sudah bisa menyesuaikan Standar Nasional Indonesia (SNI).

“Alhamdulillah, dari program kerjasama tersebut, Dompet Dhuafa memberikan support berupa penguatan koperasi PHMN, modal usaha dan alat-alat produksi pengolahan madu. Kami juga diajarkan teknik memanen madu yang benar, sehingga hasilnya juga berkualitas. Kami benar-benar sangat terbantu,” ungkap Eman.

Kang Eman bercerita, dahulu para petani madu, kesulitan dalam hal penjualan hasil panen. Para petani harus menjual dan memasarkan hasil panennya sendiri kepada masyarakat sekitar. Teknik memanennya yang dulu dipakai hanyalah teknik tidak ramah lingkungan, sehingga populasi lebah hutan terus menurun. Hadirnya program pendampingan para petani madu oleh Dompet Dhuafa, perlahan terjadi perbaikan bagi petani madu di Ujung Kulon. Berbagai teknik ramah lingkungan dan perbekalan ilmu pemasaran menjadi pengubah alur para petani madu.

Setelah dibantu Dompet Dhuafa, kualitas madu lembaga PHMN semakin membaik. Hal tersebut membuat salah satu perusahaan kosmetik Internasional, tertarik untuk menjalin kerjasama.
“Penghasilan petani juga semakin meningkat, madu dulu dijual dari harga tengkulak, antara Rp 40.000 sampai Rp 45.000. Alhamdulillah, sekarang sudah bisa dipasarkan dengan harga Rp 65.000 per kilo. Untuk pemasaran madu, kami masih berkerjasama dengan salah satu perusahaan kosmetik,” paparnya.

Inilah kemanfaatan zakat. Dana zakat benar-benar memberdayakan Kang Eman beserta rekan-rekannya sesama petani madu. Sejak tiga tahun lalu mereka adalah penerima zakat (mustahik), dan kini menjadi pemberi zakat (muzaki). Jika Dana zakat dikelola dengan baik melalui program pemberdayaan, Insya Allah bisa membantu mengurangi angka kemiskinan di Indonesia. Semoga keberkahan dan kesuksesan selalu menyertai langkahnya dalam setiap usaha dan kerja kerasnya.***(yomi)