Beredar Buku Pendidikan Agama Islam Radikal

241

IMG_20150321_073504

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan mengatakan, beredarnya buku Pendidikan Agama Islam yang mencantumkan materi radikal karena akibat persiapan penyusunannya yang terburu-buru.

Pasalnya, bahan ajar Kurikulum 2013 yang kontennya dimasukkan dalam materi pelajaran kelas XI SMA itu memang tak pantas. Sebab, di dalamnya menyebutkan orang yang tidak menyembah Allah bisa dibunuh karena kafir.

“Ini contoh bila buku ditulis secara tergesa-gesa dan belum disiapkan dengan baik,” kata Anies Baswedan sambil menunjukan buku bersampul hijau itu kepada wartawan di Gedung E Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta, Jumat (20 Maret 2015).

Anies juga menduga proses pembuatan buku tidak dikaji dengan benar. Para penyusunnya hanya fokus untuk menyelesaikan sesuai target dan cepat didistribusikan ke seluruh Indonesia. “Akhirnya kualitas buku yang dikompromikan. Sebenarnya itu tidak boleh,” ujar mantan Rektor Universitas Paramadina Jakarta ini.

Anies mengaku sudah melihat konten buku yang menuai kecaman banyak kalangan ini. Ia juga mencorat coret serta menandakan halaman yang dinilainya tidak pantas dan memiliki konten mengkhawatirkan untuk dibaca oleh anak sekolah. “Saya saja sampai kaget membaca isinya,” katanya.

Persiapan yang tergesa-gesa itu juga yang menjadi salah satu alasan Anies untuk menerapkan Kurikulum 2013 pada sebagian kecil sekolah. Anies sangat khawatir konten buku pada mata pelajaran lain juga berisi materi yang salah. “Ini karena buku agama yang banyak dibaca yang baru ketahuan. Bagaimana dengan buku matematika atau fisika?,” katanya.

Buku yang bermasalah itu berjudul Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti kelas XI SMA itu ditemukan di salah satu SMA di Jombang, Jawa Timur. Buku yang disusun Musyawarah Buru Mata Pelajaran tersebut pada halan 78 tertulis, orang yang tidak menyembah Allah adalah nonmuslim dan kafir boleh dibunuh. Dalam buku itu juga menceritakan tentang romantisme sepasang manusia.

Anies memerintahkan untuk menarik peredaran buku itu di seluruh Indonesia. Ia juga meminta untuk mengkaji lebih dalam substansi yang diajarkan buku itu.(**)

Editor: Josep Minar

Comments are closed.