Hayaudin, Pernah Belajar 3 Tahun di Jepang

99

hayaudin2Ada hal yang belum banyak diketahui orang dari sosok Hayaudin sebagai Kasubag Humas Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Cilegon yang biasa berinteraksi dengan para awak media lokal maupun Nasional ini, yaitu dia pernah tinggal di Negara Jepang selama 3 tahun. Kepada BBO, kang haya, begitu dia biasa disapa menceritakan pengalamannya selama berada di Negara Sakura itu.

Diceritakan oleh Hayaudin, pasca kuliahnya menginjak semester akhir di Sekolah Tinggi Ilmu Bahasa Asing (STBA) Bandung, ia terpilih untuk ikut dalam program pendidikan ke Negara Jepang, waktu itu jumlah peserta yang mengikuti program pendidikan adalah seluruh mahasiswa universitas yang ada di Indonesia, dari 6 mahasiswa yang  berangkat salah satunya adalah dirinya.

Selama berada di Jepang, mantan Seklur Taman Sari ini banyak mempelajari karakteristik, kultur sosial dan etos kerja orang Jepang yang menurutnya banyak nilai positifnya, salah satu contohnya adalah kedisiplinan kerja yang dimiliki para warga Jepang yang menurutnya sangat patuh dijalani oleh warga negara itu.

“orang jepang itu kalau bekerja selain sangat menjaga disiplin waktu juga bidang pekerjaanya tidak boleh merangkap. misalnya jika kita bekerja disebuah perusahaan maka orang tersebut tidak boleh nyambi dibidang pekerjaan lain dan orang jepang itu paling tidak mau  membuang waktu selama bekerja, jadi saat bekerja ya bekerja,kemudian dalam pekerjaanya selalu berhitung waktu, seperti saat saya dulu pernah bekerja di sebuah perusahaan perakitan elektronik di Jepang, waktu saya  bekerja menggunakan penghitung waktu, berapa hasil per jamnya dan kualitas hasilnya juga diatur” terangnya.

Bahkan dalam pengelolaan manajemen birokrasi dan wilayah di Negara Sakura itupun menurut Hayaudin tertata dengan baik, “Di Jepang juga secara Birokrasi Pemerintahannya berjalan sangat rapih dan sepertinya memakai sistem Birokrasi satu atap artinya pelayanan bagi warga atau masyarakat disana dilakukan dalam satu kantor seperti pelayanan KTP misalnya, disana itu setiap warga Jepang bisa langsung mengurus perijinannya dalam satu instansi saja karena disana tidak ada Kelurahan maupun Kecamatan”ungkapnya.

Selain mempelajari nilai-nilai karakteristik dan etos kerja tadi tentunya pria kelahiran Serang, 19 Desember 1975 itu juga menguasai betul secara komunikasi dan tertulis bahasa Jepang, dan ada satu cerita menarik dimana dirinya pernah mengalami kehilangan dompetnya disebuah tempat namun tidak menunggu berapa lama kemudian dompet miliknya itu dikembalikan oleh pihak berwajib tanpa sedikitpun ada yang hilang. (****)