Tempat Hiburan Di Cilegon Ditutup, Pengusaha Hiburan Pikir-pikir

544

imanKontra versi persoalan seputar dunia hiburan dikota Cilegon akhirnya berakhir dengan dengan dikeluarkannya Surat Keputusan (SK) Walikota Cilegon nomor :300/Kep.26-Pol.PP/2013 pada Senin (8/4) tentang penghentian penyelenggaraan hiburan dikota Cilegon, dalam amar keputusan SK Walikota yang dibacakan oleh Kepala Satuan Polisi Pamong Praja Cilegon Noviyogi tersebut, disebutkan jenis-jenis hiburan yang dihentikan yaitu, Diskotek, Karaoke, dan usaha khusus. ada 4 waktu penyelenggaraan yang mengatur pelaksanaan kegiatan hiburan dan apabila dilanggar akan langsung dihentikan, waktu penyelenggaraannya yaitu:

1. Mulai jam 10.00 s/d 22.00 wib sebagai sarana penunjang restauran

2.Mulai jam 10.00 s/d 22.00 wib sebagai sarana penunjang kafe

3. Mulai jam 17.00 s/d 22.00 wib sebagai sarana penunjang hotel

4. Mulai jam 20.00 s/d 24.00 wib untuk jenis hiburan sebagai usaha khusus

Selain 4 aturan jam penyelenggaraan hiburan tersebut, penyelenggara hiburan atau ditempat hiburan dilarang melakukan kesusilaan, minuman keras, perjuadian dan penggunaan narkoba dan SK tersebut berlaku sejak ditetapkan.

“Kultur Kota Cilegon itu relijius dan aktivitas hiburan selama ini sudah mencederai budaya dan kearifan di lingkungan masyarakat,” kata Walikota Cilegon dalam sambutannya usai pembacaan SK tentang Penghentian Penyelenggaraan Hiburan di aula gedung DPRD Cilegon.

Dijelaskan Iman, sebagai kepala daerah dirinya harus menjalankan amanah Perda Nomor 2 Tahun 2003 tentang izin penyelenggaraan hiburan. “Saya perintahkan kepada Satpol PP untuk senantiasa memantau aktivitas hiburan setelah pemberlakuan SK ini, bila perlu lakukan penertiban,” tegasnya

Walikota menegaskan bahwa Pemkot siap membantu seluruh masyarakat yang akan membuka usaha di Kota Cilegon selama hal itu bukan usaha hiburan.”Saya akan dukung usaha apa saja asalkan bukan usaha yang merusak moral masyarakat, dan yang dapat menimbulkan kondisi lingkungan menjadi tidak kondusif,” ujarnya.

Iman menilai banyak pengusaha hiburan yang kurang memahami kultur masyarakat Kota Cilegon yang religius. “Cilegon dikenal sebagai kota seribu Mesjid,” katanya, hadir dalam acara tersebut, para ulama, para pejabat dan unsur Muspida Kota Cilegon, serta para pengusaha hiburan.

Ketua Asosiasi Pekerja Rumah Hiburan Cilegon (Asprhigon) Imam Muji menyatakan menanggapi positif dengan terbitnya SK Walikota yang menghentikan tempat hiburan tersebut, “Kami menanggapi positif atas terbitnya SK ini, dan satu hal yang wajar bila Walikota memberikan teguran kepada kami yang sudah melakukan kesalahan, salah satunya yaitu melanggar jam operasi yang bertentangan dengan perda” ujarnya.

Di sisi lain, dirinya pun mempertanyakan proses yang dilalui hingga terbitnya perda tersebut. “Coba pikirkan pula nasib dari pekerja kami, dan dampak positif atas keberadaan tempat hiburan, hingga tukang ojek pun dapat merasakannya” lanjutnya.

Disinggung mengenai potensi kerugian yang akan dialami pengusaha, Iman mengaku belum bisa memastikan jumlahnya.”Pastinya pemilik yang dapat menjelaskan itu, dan kami hanya pekerja biasa” jelas Iman.

Lebih jauh Imam menegaskan bahwa bidang hukum organisasi itu juga saat ini tengah melakukan kajian terhadap SK tersebut. “Lihat saja dua hari ke depan ini, bidang hukum kami akan memberikan keterangan,” tegasnya.
(@bie Aksa/BBO)